RENUNGAN
Beranda » Berita » Menjadi Pembawa Damai Sejahtera

Menjadi Pembawa Damai Sejahtera

Oleh: RD Pius Laba Buri

HARI RAYA PENTAKOSTA

Kis 2:1-11      1Kor 12:3b-7.12-13      Yoh 20:19-23

Ilustrasi:

Cinta Akan Musuh

Renungan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, Senin 2 November 2026

Di tengah kancah peperangan di Libanon, seorang anak Seminari ditawan oleh seorang Muslim Druze. Si Druze memerintahkan tawanannya itu (siswa Seminari) menuruni sebuah lereng bukit, tempat ia akan ditembak.

Siswa seminari ini telah dibekali latihan perang dan dapat melumpuhkan penawannya dan melucuti senjatanya. Sekarang meja telah terbalik; sekarang si Druze yang menjadi tawanan dan diperintahkan untuk menuruni lereng itu.

Akan tetapi ketika mereka sedang menuruni pegunungan itu, siswa Seminari itu teringat akan perkataan Yesus; “Cintailah musuhmu. Bersikaplah baik terhadap orang yang membenci kamu”.

Ia tidak dapat berjalan lebih jauh lagi. Ia melemparkan senjata ke semak-semak, mengatakan kepada Druze bahwa ia boleh pergi, dan si Seminaris kembali ke puncak. Beberapa menit kemudian ia mendengar si Druze mengiktinya dari belakang. “Apakah ini akhir semuanya?” pikirnya.

Mungkin Druze hendak menembaknya di punggung. Tetapi siswa itu tidak pernah berpaling. Ia berjalan terus, hingga akhirnya si Druze berjalan berdampingan dengannya, memeluknya dan merangkulnya lalu berterimakasih kepadanya karena telah menyelamatkan nyawanya.

Perayaan Terpadu PKRW 2026, Deken Lembata: Wangatoa Multikultur dan Jadi Kekayaan Gereja

(Dari: 1500 Cerita Bermakna, Jilid III, hal. 97)

Kisah  yang mencengangkan dan mengharukan. Benih sabda yang pernah disemaikan tumbuh dan kuat berpengaruh mengubah perang menjadi damai, musuh jadi sahabat, lawan jadi kawan, todongan senjata jadi pelukan, kematian menjadi hidup, kebinasaan menjadi keselamatan.

Bapak, Ibu, Saudara/i, yang terkasih dalam Kristus,…

Pentakosta, peristiwa turunnya Roh Kudus, hari lahirnya Gereja, bukanlah sebuah momen pelimpahan kekuatan untuk menciptakan kekacauan atau perang, melainkan saat dicurahkannya Roh (Kudus) untuk menciptakan damai. Di sisi yang lain perang dan kekacauan (konflik orang per orangan, dalam keluarga, antar kelompok, antar bangsa) sering tak terhindarkan, bahkan dapat menjadi awal dari situasi damai yang dirindukan. Kematian Yesus dapat kita sebut sebagai kisah tentang ‘kekacauan dan perang’ berkepanjangan akibat dosa manusia. Kehadiran dan hidup-Nya pun kerap membawa pertentangan dan memicu perseteruan, menyulut api iri hati serta memperpanjang pertarungan kepentingan, pengaruh dan jabatan para penguasa zaman itu. Namun, ibarat mengemas dan menata sebuah manajemen konflik, di balik segala kekacauan itu, Yesus menyiapkan agenda besar yakni terwujudnya damai sejahtera. Di tengah murid-murid-Nya yang sedang perang/konflik batin pasca kematain dan kabar kebangkitan-Nya, Yesus hadir dan berkata; “Damai sejahtera bagi kamu”. Damai sebagai satu saudara yang berpadu, bukan perpecahan. Di hadapan mereka Yesus mengajarkan bahwa damai yang Ia wartakan bukanlah sebuah situasi yang tercipta secara gampangan tetapi melewati perang dan pertarungan hebat yang telah membuat-Nya menderita dan akhirnya wafat. Hal ini ia buktikan dengan menunjukkan luka-luka-Nya. Dengan kata lain; degan menunjukkan luka-luka-Nya, Yesus menyatakan bahwa damai sejahtera yang Ia bawa itu benar-benar nyata, benar-penar diperjuangkan seperti luka-luka-Nya yang tampak nyata.

Para murid tentu tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya, karena Yesus yang telah mati itu tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka. Tanpa mempedulikan ekspresi dan perasaan mereka saat menyaksikan kebenaraan luka-luka-Nya, Yesus serentak menyerahkan tanggungjawab pengutusan, membawa damai sejahtera itu; “Seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. Para rasul diminta untuk mewartakan kebenaran ‘apa adanya’ seperti yang mereka lihat dan rasakan; benar ada luka dan luka itu yang telah membawa damai sejahtera. Itu berarti pengutusan mereka untuk menyebarluaskan damai sejahtera tak jauh dari perang, konflik, pertentangan dan luka.

Kasih adalah Kunci Hidup Yang Bahagia

Yesus tahu, menjalani kondisi ini tidak mudah. Karena itu Ia mencurahi mereka Roh Kudus seperti yang pernah Ia janjikan; “Terimalah Roh Kudus”. Roh inilah yang menaungi setiap orang yang percaya pada hari pentekosta. Roh Kudus hadir dengan tanda-tanda dasyat sebagaimana ditulis dalam Kisah Para Rasul (bacaan pertama) antara lain: tiupan angin keras dan lidah-lidah seperti nyala api. Roh Kudus itulah yang memampukan para murid berbicara dalam aneka bahasa.

Hari ini, seperti para rasul, Yesus memandatkan seruan perutusan membawa damai ke dalam dunia. Perutusan itu disertai dengan pencurahan Roh Kudus, yang menyanggupkan orang beriman untuk bersaksi dalam aneka ragam karya. Rasul Paulus (bacaan kedua) menulis; “Ada rupa-rupa karunia tetapi satu Roh”. Apa pun karunia dan panggilan kita, Roh Kudus yang dicurahkan adalah demi damai sejahtera, baik di rumah, di tempat kerja, dalam kelompok-kelompok minat yang kita bentuk dan berbagai macam perkumpulan. Dengan kekuatan Roh Kudus yang dicurahkan hari ini; Ciptakanlah damai, meski damai itu kadang harus berawal dari percecokan. Bukalah ruang damai meski di sana ada luka yang harus ditunjukkan. Buanglah senjata egoism, sejajarkan langkah dan lingkarkan tangan dan bisikanalah; terimakasih telah menyelamatkan saya.***

                                              Wangatoa, 24 Mei  2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement