Oleh: RD Yohanes Angka Wokal
Pastor Rekan Paroki Kristus Raja Wangatoa
1 Raja 19:9a.11-13a; Roma 9:1-5; Mateus 14:22-33
Saudara-saudari… Dalam hidup kita sering menjadi bimbang dan ragu atas apa yang sudah kita yakini sebagai yang benar. Ketika kita mengalami tantangan, kesulitan atau badai dalam hidup. Gelombang atau badai kehidupan itu sering kali membuat kita frustrasi atau putus asa. Akibatnya, kita sering menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, keadaan atau bahkan menyalahkan Tuhan. Itulah kondisi riil yang sering kita lihat dan mungkin juga kita alami.
Sesuai bacaan 1 Raja menggambarkan, janji Allah kepada bangsa Israel bahwa, mereka harus Kembali dari jalan yang sesat, bukan dengan kekerasan, bagaikan badai dan taufan yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu atau seperti gempa yang memporak-porandakan segalanya, melainkan dengan ajakan yang lemah-lembut dari Roh Tuhan. Desiran angin sepoi-sepoi melambangkan karya Roh yang berkuasa mencairkan hati yang keras menjadi lembut penuh kasih, yaitu mengubah manusia yang berdosa menjadi manusia yang benar; yang bermusuhan berdamai Kembali, sesuai dengan firman-Nya, ”Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai akan berpelukan, kesetiaan akan tumbuh dari bumi dan keadilan Allah akan menjenguk dari langit.”
Selanjutnya, dalam bacaan Injil, mengungkapkan bahwa, Perahu kehidupan kita terombang-ambing karena badai persoalan hidup. Sebagai orang beriman tentunya kita sadar dan yakin, bahwa bila Tuhan Yesus ada bersama dan bersatu dengan kita, tidak ada yang perlu ditakuti, dan Yesus sendiri bersabda: “Tenanglah!, Aku ini, jangan takut!.” Para murid tengah dilanda gelombang, menjadi takut ketika Yesus datang dan hadir. Mereka berteriak karena Yesus disangkanya “hantu”. Dan Ketika Petrus yang pada mulanya yakin bahwa Yesus hadir dan memanggil-Nya, ia pun bisa berjalan di atas air seperti Yesus, tapi ia mulai ragu dan bimbang ketika angin kencang dan gelombang. “Tuhan tolong!” itulah teriakan Petrus. Ia kurang percaya bahwa Yesus yang hadir dan ada bersamanya pasti aman. Yesus mengulurkan tangan-Nya. Ia memegang erat tangan Petrus, dan mengatakan: “Mengapa engkau bimbang?”, itulah pertanyaan yang menggugat Petrus dan tentu saja kita juga sering begitu mudah untuk tidak percaya, ragu dan bimbang atas kuasa Yesus, bahkan atas kehadiran Yesus ketika perahu hidup kita diterpa angin dan gelombang penderitaan, sakit dan penyakit serta berbagai kesulitan hidup.
“Jangan takut!” itulah kata-kata yang meyakinkan para murid Ketika angin dan gelombang sedang menerpa perahu mereka. Jangan takut karena Tuhan ada, hadir dan bersama mereka dalam pelayaran itu. Kita semua adalah Petrus kadang percaya, tetapi sering bimbang. Saat hidup terasa tenang, kita yakin Tuhan menyertai. Namun, saat badai datang, masalah, sakit, kegagalan, kehilangan, kita mulai bertanya, “Tuhan, di mana Engkau?”
Tuhan menghendaki kita untuk tenang dalam mengarungi Samudra hidup kita masing-masing. Badai pasti ada. Namun, Ia sendiri menjanjikan pertolongan. Yang diminta dari kita adalah kerendahan hati untuk selalu mengandalkan Dia dan bukan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Bersama Tuhan, badai dalam kehidupan kita pasti berlalu dan kita terus berlayar sampai di “Tanah Air” surgawi.
Perahu kehidupan kita, perahu keluarga kita, perahu kebersamaan kita, sering terombang-ambing karena badai persoalan hidup. Kita sering menghadapi tantangan dan kesulitan dalam hidup, entah besar atau kecil, ringan atau berat; dan membuat kita gelisah, ketakutan, bahkan meragukan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Iman yang teguh menjadi kekuatan dalam segala tantangan. Tuhan Yesus memberikan jaminan, “Tenanglah, Aku ini. Jangan takut!”. Kita perlu kerendahan hati untuk selalu mengandalkan Dia, untuk terus mengarungi gelombang kehidupan kita. Dia tidak menjanjikan sebuah pelayaran tanpa badai dan gelombang, tetapi yang pasti kita akan sampai ke Pelabuhan yang aman dan damai bersama-Nya. Kita yakin dan percaya, bersama Dia badai pasti berlalu.
Hidup iman seorang pengikut kristus dilambangkan dengan “berjalan di atas air”. Petrus bersama rekan-rekannya dalam hempasan gelombang danau melihat Yesus berjalan di atas air dan memohon agar diberikan bantuan, agar dapat berjalan di atas air seperti Kristus. Pengalaman iman Petrus menjadi juga pengalaman kita masing-masing. Bila segala-galanya berjalan baik dan lancar, maka iman kita terasa aman. Akan tetapi bila ada sesuatu yang kurang beres dalam hidup kita, seperti penyakit, kecelakaan dan kematian, maka kita gampang menjadi bimbang dan kurang percaya akan sabda Tuhan.
Dan Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, mengungkapkan Kasih Karunia Allah jauh lebih berkuasa daripada kejahatan. Banyak kegagalan yang sering mengoyak hati Paulus ialah penolakan bangsanya terhadap Kristus Sang Penyelamat dengan membunuh-Nya. Inilah yang membuat Paulus menderita. Sikap membandel orang Yahudi yang menolak keselamatan sangat menyakitkan hati Paulus, sampai dia sendiri rela menjadi keselamatan bagi bangsanya. Karena itu, ia berani mengatakan,”Aku sendiri rela dikutuk oleh Allah dan dipisahkan dari Yesus demi saudara-saudaraku dan kaum sebangsaku”. Usaha Paulus untuk keselamatan bangsanya merupakan satu Tindakan kasih sejati. Ini berarti berani menjadi keselamatan bagi sesama.
Di tengah “badai” hidupku, apakah aku masih mampu mendengar suara lembut Tuhan? Apakah aku percaya bahwa Yesus mengulurkan tangan-Nya, bahkan saat aku bimbang? Tuhan hadir dalam badai hidup, tetapi sering dalam cara yang lembut dan tak terduga. Santo Paulus pun menunjukkan betapa kasih dan iman yang mendalam membuatnya rela berkorban demi bangsanya. Ia mengenal Yesus, dan itu memberinya kekuatan meski hatinya penuh duka. Mendiang Paus Fransiskus pernah berpesan, ”Jangan takut menghadapi kesulitan hidup. Tuhan selalu bersama kita. Berpeganglah pada-Nya, jangan lepaskan tangan-Nya!”. ***

Komentar