Rohani
Beranda » Berita » Renungan Minggu Biasa XXVI, 27 September 2026; Bersikap Seperti Kristus 

Renungan Minggu Biasa XXVI, 27 September 2026; Bersikap Seperti Kristus 

Oleh: RD. Yohanis Angka Wokal, Pr)*

Yehezkiel 18:25-28; Filipi 2:1-11 (Flp 2:1-5); Mateus 21:28-32

Saudara-saudari, dalam Injil kita membaca pengajaran Yesus tentang sikap manusia terhadap undangan Allah. Anak yang pertama menjawab “Ya”, tetapi tidak pergi, sementara yang kedua menjawab “Tidak”, tetapi kemudian menyesal dan pergi. Kita sepakat bahwa sikap anak yang kedua itu lebih baik dari yang pertama. Anak yang satu telah menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Bapa. Dia menyadari bahwa dengan menjawab tidak pada kehendak Bapa, dia telah melakukan hal yang membuat dia jauh dari Bapa. Ia menyadari pula bahwa hal yang dia lakukan itu adalah melawan Bapa. Dengan demikian, dia telah berdosa yang menyebabkan dia tidak layak disebut anak bapa. Ia juga menyadari bahwa dia tidak boleh bertahan terus dengan sikap itu. Sebab sikap melawan Bapa tidak akan membawa dia kepada kehidupan. Sebaliknya, justru mengantar dia kepada bahaya kematian. Bagi dia, hanya dengan melaksanakan kehendak Bapa lah dia dapat menyelamatkan dirinya, yang dapat membawa dia kepada kehidupan. Atas kesadaran itu, dia bertobat lalu melaksanakan kehendak Bapanya. Kerendahan hati anak itu memampukan dia untuk bertobat,lebih terbuka, dan taat kepada kehendak Allah.

Kita sebagai anak Allah memang diminta untuk rendah hati. Dalam bacaan kedua, santo Paulus menegaskan bahwa hanya dengan kerendahan hati kita dapat mencintai Tuhan dan sesame. Pertobatan adalah salah satu wujud dari cinta kepada Tuhan dan sesame. Nabi Yehezkiel mengatakan bahwa pertobatan mendatangkan Rahmat kehidupan, membuat kita pasti hidup. Yesus yang adalah Putera Allah telah menunjukkan kepada kita jalan kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa-Nya. Maka, kita yang berdosa ini hendkanya mengikuti teladan-Nya, taat dan rendah hati mengakui dosa kita, serta berubah menjadi lebih baik di hadapan Allah.

Apabila kata-kata dan sikap kita hanya supaya orang senang dan menganggap kita itu baik, namun ternyata sebaliknya. Ada sikap asal bapa senang ( ABS ), sering kita jumpai baik dalam kehidupan keluarga, juga di tempat kerja atau di mana saja. Hanya supaya orang senang dan punya kesan baik terhadap kita serta tidak sakit hati, di depan orang kita seolah baik, tetapi ternyata lain di belakang. Kita tidak mau melakukan apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama.

Perayaan Terpadu PKRW 2026, Deken Lembata: Wangatoa Multikultur dan Jadi Kekayaan Gereja

Sebaliknya, sering juga ada yang seperti anak kedua. Pada awal ia tidak mau, tidak bersedia. Bahkan dengan tegas mengatakan bahwa, “pokoknya tidak mau!”, tetapi dalam perjalanan, ia menyadari bahwa ia keliru, ia salah dan ia menyesali jawabannya itu, dan dengan berani ia berubah. Ia mengubah pikiran dan pendapatnya yang sebelumnya tidak, sekarang menjadi ya. Tentu hal ini mengejutkan. Karena ia mau dan berani berubah. Ia menyesal dan melakukan apa yang dikehendaki atau diperintahkan kepadanya. Kita kerap memilih jalan kita sendiri. Jalan kita itu adalah jalan keinginan daging kita sendiri.

Saudara-saudari….Yesus mau menunjukkan kedua sikap itu sering ada dalam diri kita. Memang keduanya itu tidak pantas, tetapi yang terakhir ketika ia bisa menyadari kekeliruan, menyesal dan berubah, itulah menjadi lebih baik dari yang pertama. Yang diharapkan Yesus adalah orang harus bisa mengubah masa lalunya yang mungkin penuh kelemahan, salah dan dosa kepada suatu masa depan yang lebih baik. Menjadi manusia baru, yang berbenah, berubah dan berbuah. Allah selalu mau dengan penuh kesabaran mengasihi dan menerima kembali orang-orang berdosa yang bertobat. Allah selalu melihat di dalam setiap orang ada nila-nilai baik yang ia miliki, yang mendorongnya untuk bangun kembali menjadi lebih baik. Tuhan memang tidak menyukai pendosa. Akan tetapi, Kerahiman Tuhan Mahaluas untuk menerima para pendosa yang mau bertobat. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan Perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Saudara-saudari…Nabi Yehezkiel mencoba menjawab atas kesalahan orang Israel ketika mengalami pengasingan di Babilon. Mereka berserah diri kepada nasib malang yang menimpa mereka. Mereka menjadi putus asa, dan patah semangat. Persoalan yang seringkali mengusik mereka ialah, ”Betulkah dosa nenek moyang, kesalahan di masa lampau mendatangkan hukuman bagi mereka di masa kini?”. Umat Israel menggugat kebijaksanaan Allah dengan mengatakan bahwa rencana-Nya tidak tepat. Kalau Allah itu baik mengapa Ia membiarkan musuh-musuh menindas kami? Mengapa kejahatan merajalela di bumi ini? Jawaban nabi Yehezkiel adalah, ”Dosalah yang merupakan biang keladi dari kematian.” Maka, apabila orang berusaha menentang dosa, ia akan menghadapi suatu hidup baru, suatu pembaruan, suatu metanoia, pelepasan diri dari belenggu dosa dan penyerahan diri seutuhnya kepada Allah. Tobat itu adalah jalan kembali kepada Allah. Dan juga, pertobatan itu adalah pintu menuju keselamatan.

Dalam berbagai hal, Allah telah menunjukkan kepada kita pentingnya bersikap rendah hati, baik kepada manusia maupun terutama kepada Allah sendiri. Allah melihat seseorang bukan semata-mata dari perbuatannya, melainkan juga sikap hatinya. Bagi Allah, lebih berkenan seorang pendosa yang bertobat dengan sungguh-sungguh daripada orang yang seolah-olah berlaku benar, namun tidak hidup dalam pertobatan. Anak yang satu telah menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Bapa. Dia menyadari bahwa dengan menjawab tidak pada kehendak Bapa, dia telah melakukan hal yang membuat dia jauh dari Bapa. Ia menyadari pula bahwa hal yang dia lakukan itu adalah melawan Bapa. Dengan demikian, dia telah berdosa yang menyebabkan dia tidak layak disebut anak Bapa. Ia juga menyadari bahwa dia tidak boleh bertahan terus dengan sikap itu. Sebab sikap melawan Bapa tidak akan membawa dia kepada kehidupan. Sebaliknya, justru mengantar dia kepada bahaya kematian. Bagi dia, hanya dengan melaksanakan kehendak Bapalah dia dapat menyelamatkan dirinya, yang dapat membawa dia kepada kehidupan. Atas kesadaran itu, dia bertobat lalu melaksanakan kehendak Bapanya. Kerendahan hati anak itu memampukan dia untuk bertobat, lebih terbuka, dan taat kepada kehendak Allah.

Kita sebagai anak Allah memang diminta untuk rendah hati. Dalam surat Santo Paulus kepada jemaat di Filipi, menegaskan bahwa hanya dengan kerendahan hati kita dapat mencintai Tuhan dan sesama. Pertobatan adalah salah satu wujud dari cinta kepada Tuhan dan sesama. Nabi Yehezkiel mengatakan bahwa, pertobatan mendatangkan Rahmat kehidupan, membuat kita pasti hidup. Yesus yang adalah Putra Allah telah menunjukkan kepada kita jalan kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa-Nya. Maka, kita yang berdosa ini hendaknya mengikuti teladan-Nya, taat dan rendah hati mengakui dosa kita, serta berubah menjadi lebih baik di hadapan Allah.

Renungan Hari Raya Semua Orang Kudus, Minggu 1 November 2026

Semoga , kesatuan dan persatuan kita dengan Yesus harus menyata baik dalam kehidupan sekarang ini, maupun hidup yang akan datang. Dan kita pun hendaknya memilih jalan seperti yang dipilih oleh salah seorang anak dalam Injil, yaitu memilih jalan pertobatan. Kita pun hendaknya bertekun dalam belajar menjadi taat dan setia kepada kehendak Bapa. Manakala kita tersesat dan jatuh, kita mohon Tuhan mengulurkan tangan-Nya agar kita dapat melangkah maju di jalan kesempurnaan-Nya. * semoga *

*)RD. Yohanis Angkal Wokal, Pr, Pastor Rekan Paroki Kristus Raja Wangatoa 

 

 

Sambut 100 Tahun Minggu Misi Sedunia, Sekami PKRW Gelar Ragam Kegiatan Iman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement