RENUNGAN Rohani
Beranda » Berita » “Siapakah Aku Ini”

“Siapakah Aku Ini”

Oleh RD. Yohanes Angka Wokal

Pastor Rekan Paroki Kristus Raja Wangatoa

Wahyu 11:19a;12:1.3-6a.10ab; 1 Korintus 15:20-26; Lukas 1:39-56

Saudara-saudari…. Seorang ibu pernah berkata saat anaknya sukses, “Rasanya semua sakit dan pengorbanan waktu dulu langsung hilang melihat anaknya sukses, dan ibu itu sungguh bahagia.” Kalimat sederhana ini menggambarkan sesuatu yang lebih dalam, bahwa cinta sejati selalu melahirkan pengharapan, dan pengorbanan tak pernah sia-sia.

Hari ini Gereja merayakan kepenuhan cinta dan pengharapan dalam diri Maria. Ia, yang setia mengikuti kehendak Allah, yang menderita bersama Putranya di bawah Salib, kini dimuliakan: diangkat ke Surga, tubuh dan jiwanya. Inilah pengharapan kita juga, bahwa dalam Kristus, maut bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan kekal. Dan dalam Injil Lukas mengungkapkan, Maria menyanyikan Magnificat, pujian dari hati seorang yang percaya bahwa Allah berpihak pada yang rendah hati.

Renungan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, Senin 2 November 2026

Kisah Injil hari ini, melukiskan perjalanan kunjungan persaudaraan Maria kepada Elisabeth saudaranya yang sedang hamil tua. Perjumpaan dua bersaudara yang sedang membawa dalam Rahim Yohanes, utusan Allah yang akan menyiapkan datangnya Mesias Putra Allah, yang sedang dikandung Elisabeth dan Yesus yang dikandung Maria. Perjumpaan yang saling meneguhkan, saling berbagi, dan bersyukur atas karya besar Allah yang sedang bekerja dalam diri mereka. Elisabeth memberikan kesaksian yang luar biasa atas kehadiran penuh sukacita itu. “Diberkatilah engkau di antara semua Perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, Ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan”. Elisabeth merasa penuh dan Bahagia Ketika menerima kunjungan Maria. Siapakah aku ini, sesungguhnya juga mengungkapkan kerendahan hati dan keterbukaan hati Elisabeth menerima sapaan Allah dalam dan melalui Maria, sehingga anak dalam Rahim pun melonjak kegirangan.  Yesus yang dibawa dalam diri Maria menjadi berkat dan sukacita. Dan Maria sesungguhnya terberkati karena ia dengan rela dan penuh kerendahan hati bersedia menjadi ibu Tuhan.

Maria, sebagai manusia yang pertama-tama sepenuhnya menanggapi Rahmat Allah, menerima janji kebangkitan lebih dahulu, sebagai gambaran Gereja dan harapan bagi semua. Seperti Maria, kita pun dipanggil untuk mengandalkan Allah dan setia dalam segala keadaan.

Firman Allah seperti yang dilukiskan oleh Kitab Wahyu menampilkan Maria sebagai sang surya, yang membawa terang pembebasan lewat Putranya, Yesus sebagai lambang harapan atau Wanita akhir zaman, yang mampu menghancurkan naga, musuh manusia sejak semula. Dialah “Wanita yang berselubungkan matahari”, sebab dia satu-satunya manusia yang ditebus secara sempurna; dengan jiwa dan raga berbahagia di Surga. Maria yang berdandankan kemuliaan bukanlah Maria yang tanpa derita,karena Kitab Suci mengatakan “Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaan, ia akan melahirkan”.

“Ia berteriak kesakitan” mengungkapkan semua penderitaan Maria yang ditanggung dengan pengharapan seperti Ketika dia melahirkan Yesus dalam kemiskinan yang luar biasa, pengungsian di Mesir dan semua pengalaman lainnya dari pengungsian baru, bahkan sampai dengan kelahiran Gereja ketika Yesus Putranya itu wafat  di salib, supaya mengutus Roh Kudus kepada kita.

Maria sungguh meyakini karya besar Allah yang terus bekerja dalam dirinya, juga dalam situasi hidup yang menantang dan penuh resiko. Maria tetap setia dalam komitmen akan panggilan Allah. Kesetiaannya sampai di bawah kaki salib Putranya yang telah ia kandung, lahir dan dibesarkan dalam asuhannya. Kesaksian iman Maria yang terungkap dalam madah pujian, menggambarkan betapa Allah Juruselamatnya telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadanya dan namanya adalah kudus, selalu menyertainya.

Perayaan Terpadu PKRW 2026, Deken Lembata: Wangatoa Multikultur dan Jadi Kekayaan Gereja

Kehadiran Bunda Maria di dunia dan keterkaitannya dalam Sejarah keselamatan tak lepas dari penyelenggaraan Ilahi. Semua sudah direncanakan dan dipersiapkan oleh Allah. Maka, dari itu kita  bisa mengerti jika untuk melahirkan Yesus, Bunda Maria disucikan dan dikandungnya tanpa noda dosa. Selama hidupnya tidak berdosa, karena tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa. Maka setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.

Maria hanyalah seorang hamba yang tak dikenal oleh dunia, hidup tersembunyi di dusun Nazareth, bahkan ia tidak dikenal oleh orang-orang sedesanya. Dia sendiri adalah seorang miskin dari Yahwe, seorang anawim. Namun dia yang kecil, hina dina ini telah dipilih Allah menjadi ibu Tuhan, yang memberi Kristus kepada dunia. Sebagai seorang ibu yang penuh kasih, ia telah mendampingi Yesus Putranya dalam menghadapi pencobaan-pencobaan bahkan sampai mati di salib. Dialah pembawa Kristus yang pertama, sehingga semua putra-putrinya berusaha membawa Kristus dalam dirinya dengan hidup seperti Kristus, dan berperilaku seperti Kristus. Dengan Paulus, seorang pengikut Kristus pernah berkata, “Aku hidup, tetapi bukan aku yang hidup, melainkan Kristus dalam aku”.

Kita bersyukur kepada Rahmat Tuhan, dan berkata, siapakah aku ini sehingga karya besar Allah juga selalu dan terus berkarya dalam diri kita. Ibu Tuhan, Bunda Maria juga selalu mengunjungi kita,  meneguhkan dan mendoakan kita. Dan juga berkat demi berkat  dari Allah sungguh hadir dan peduli serta memperhatikan kita. Bersama Maria kita  boleh bermadah, “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku”. Semoga kita pun dapat meneladani Bunda Maria dalam penziarahan hidup ini, dan kita pun dimuliakan bersama Maria. Semoga…(***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement