INFO PASTORAL KEGIATAN GEREJA
Beranda » Berita » Harapan kami, “ Om Frater, andaikan kau datang kembali jawaban ‘ya’ harus kau bawa, dan sapaan baru kan kuberi: ‘Om Romo.”

Harapan kami, “ Om Frater, andaikan kau datang kembali jawaban ‘ya’ harus kau bawa, dan sapaan baru kan kuberi: ‘Om Romo.”

Kalimat ini mengakhiri sambutan Pastor Paroki Kristus Raja Wangatoa, RD Pius Laba Buri sebelum perayaan misa Minggu Kerahiman Ilahi, Minggu (12/04/2026) di tutup. Umat yang hadir tampak tersenyum. Mengiyakan apa kata romo Pius. Di tempat koor, bagian kanan depan altar, sebanyak 47 frater tampak serius mendengar. Sesekali mereka tersenyum. Entah apa yang ada di benak mereka. Mereka baru usai mempersembahkan koor terbaik selama perayaan misa.

Live In para frater Tingkat III Seminari Tinggi St Petrus Ritapiret selama enam hari sejak Selasa (07/04/2026), berakhir. Setelah misa, para frater pulang ke Maumere, ‘rumah’ mereka saat.

“Sebelum para frater dan om Tuan Richard mengayun langkah kembali ke Bunda Rita, atas nama seluruh umat PKRW, saya akhiri kata hati kami bernada curhat. Kami sepatutnya bisa menegaskan hak kami untuk kecewa oleh hadirmu yang cuma sebentar. Tapi lebih besar dorongan jiwa kami untuk mengubahnya menjadi cerita cinta dukungan kami pada kepergianmu hari ini, dengan keyakinan bahwa hilngmu hanya sebentar. Sebab Tuhan akan membuatmu hadir kembali di hati kami melalui pemandangan indah di altar-Nya yang suci dalam dandanan yang lebih Agung. Harapan kami om Frater..Andaikan kau datang kembali jawaban ‘ya’ harus kau bawa, dan sapaan baru kan kuberi “Om Romo,” ujar RD Pius.

Mengakhiri sebuah cinta yang terlanjur dimulai rasanya sangat sulit. Tapi mengawali sebuah cinta setelah semuanya berakhir,rasanya lebih sulit lagi. Jangan pernah mengawali sebuah cinta jika kita tidak mampu mengakhirinya, karena mencintai seseorang berarti kita harus siap kehilangan dia. Ingat,!! Cinta berawal dari senyum, tumbuh dengan kasih sayang dan berakhir dengan air mata.  

Dari sudut pandang refleksi saya, lanjut RD Pius,  adalah sebuah kiat mencintai; memulai cinta-menumbuhkembangkan cinta-mengakhiri cinta. Dalam memulai ada tumbuh-kembang, dalam tumbuh-kembang ada memulai, merangsek ke arah akhir tapi tak pernah berakhir dan tetap dalam pusaran tumbuh kembang.

Renungan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, Senin 2 November 2026

“Para Frater datang ke sini dan kita baru memulai sebuah pertemuan untuk menumbuhkembangkan panggilan. Tapi panggilannya bukan baru mulai di sini, ia sudah hadir lama dalam pergumulan hidupnya. Di lain sisi, pertemuan yang baru kita mulai ini, menjadi saat tumbuh kembang, selanjutnya kita bergerak menunju akhir pertemuan, yang saya pastikan ada derai air mata. Air mata itu bukan karena semuanya berakhir, sebaliknya akhir yang menyulut kerinduan agar   saat mulai dan tumbuh kembang, panggilan itu mekar dalam abadi. Oleh karena itu, pujian dan syukur kepada Tuhan, patut kita tahktakan di nomor wahid, sebab berkat Dialah kita memulai sebuah temu panggilan dengan senyum, kita memupuk tumbuh kembang panggilan dengan kasih sayang dan kita mengukir rindu terjawabnya panggilan dengan derai air mata pisah. Tuhan e,..Kau memang hebat. Atau dengan ungkapan lugas kita; Ko sungguh terlalu.”

Sungguh amat bahagia, hati seluruh umat Paroki Kristus Raja Wangatoa (PKRW)  saat pertama kakimu menyisakan gambar telapak sepatumu di halaman rumah besar kami yang becek. Pada senja berlumur gerimis, pada Selasa  tertanggal 7 April, kita memulai kisah ini. Sebenarnya sangat romantis, di awal usia keremajaanku sebagai paroki yakni 17 tahun,   ‘sewet seventeen’. Tapi kami justru melukis wajah senja ini tidak dengan romantisme seorang remaja, tak pula dengan tatapan dewasa seorang tetua. Hadir di hadapanmu senyum sang cilik tak banyak paham, wajah lugu dengan hati polos, dua sosok mungil ‘seorang SEKAMI dan seorang REMIS’. Tangan mereka yang lemah memaksa bahu dan leher kekar om Frater merunduk rendah, serta mengisyaratkan batok botak mengkilat minim rambut alias om Tuan Rikard untuk tunduk seolah terkulai, lalu si mungil itu melingkarkan selendang di lehermu, membuatmu satu tingkat lebih ganteng di senja yang sedang tersenyum elok. Itu bukan tanda tak hormat dan menyepelehkanmu tapi terkandung maksud: semoga dianya tergerak menjejakimu seperti om Frater dan menjadi om Tuan.   Senja yang semakin turun menghantarmu menuju 12 lingkungan, melabuhkan tidurmu di gubuk cinta orangtua angkatmu. Hari-haripun dilewati seturut apa kata sepakat kita tapi tetap rileks plus fleksibel. Di ruang sekolah, di panti asuhan, lingkup KBG, hingga kunjungan jompo dan orang sakit, aksi fisik di saat bakti sosial dan laga di lapangan futsal, para Frater melayani sekaligus menabur panggilan. Semuanya sungguh membuat cintaku dan cintaku berpadu dalam cinta kita dan menunjukan wajah mekar.

Tak mungkin saya lupakan, di suatu malam  istimewa, dalam kemasan kolaborasi antara para frater bersama Sekami-Remis dan OMK PKRW, hadir sebuah panggung hiburan bertajuk iman dan budaya. Tersentak rasanya. Tanpa bangunan komunikasi sebelumnya tapi sungguh nyambung. Betapa tidak, kami sedang mendaratkan  iman dan budaya di hati umat PKRW, di mana di Jumat Agung kemarin OMK PKRW barusan menyajikan ke hadapan kami Kisah Sengsara Yesus dalam bentuk Tablo Budaya. Misteri sengsara Kristus yang merupakan isi iman kita, dikemas dalam warna budaya agar lebih menyentuh. Terimakasih Frater telah mengingatkan kami dan menegaskan bahwa iman dan budaya bukan hal yang saling bersikutan. Untuk semuanya itu, terimakasih seribu om Frater dan om Tuan Richard, terimakasih untuk romo Praeses dan seluruh staf, terimakasih dan salam untuk Bunda Rita yang keramat.  Ritapiret namamu, kau kucinta pujaanku, Ibu yang telah mengandung dan melahirkanku di usia emasnya, tertanggal 8 September 2005.

Tak lupa kami sertakan maaf, atas senyum kami yang hambar, sapa kami yang tak ramah, celoteh kami yang tak santun, makanan kami yang tak tepat selera, bantal kami yang tak membuatmu nyaman. Tak ada unsur sengaja, tapi kami akui kalau tangan kami hanya sampai sebatas itu. Sekali lagi maaf banyak-banyak.  RD Pius juga menyampaikan., dari lembar hati yang paling putih saya menulis catatan ‘Terimakasih’ berlimpah pula untuk para pengurus DPP PKRW, Panitia terpadu, Organisasi Gerejani (khusus OMK, SEKAMI-REMIS), tokoh masyarakat, unsur pemerintah, Lembaga Pendidikan (SMAK St. Yakobus dan SDN Wangatoa), Panti Asuhan dan seluruh umat PKRW untuk kerjasama dan keterlibatannya dalam menyukseskan live in para Frater.  Pengurus lingkungan dan KBG, pengorbananmu sungguh mulia. Terimakasih. Keluarga-keluarga tempat Frater menginap, terimakasih berlimpah telah menjadi orangtua angkat bagi para frater.  Umat semua, dalam hari-hari live in, Anda telah menjalankan tanggungjawab pembinaan bagi Frater calon imam. Andil kita kecil saja tapi itu baik, sebab kata Muder Theresa, Kecil-kecil yang baik akan menjadi besar yang baik. Kita tidak mampu melakukan hal-hal besar, kita hanya mampu melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. (*)

Perayaan Terpadu PKRW 2026, Deken Lembata: Wangatoa Multikultur dan Jadi Kekayaan Gereja

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement