HARI MINGGU PASKAH III
Kis 2:14.22-33 1 Ptr 1:17-21 Luk 24:13-35
Tuhan Tidak Berhenti Di Tengah Jalan
Bapak, Ibu, Saudara/i, yang terkasih dalam Kristus,…
Dalam kesempatan Pertemuan Pastoral baru-baru ini, seorang rekan imam bertanya kepada saya, “Mengapa orang paroki Lerek sangat menaruh perhatian terhadap P. Beeker?”
Singkat saja saya menjawab, “Karena bagi mereka, oleh karena darahnya iman di paroki Lerek bertumbuh dan berkembang”.
Saat saya balik ke kamar tidur, saya kemudian merenung. Apakah jawabah saya mewakili rasa hati mereka? Mengapa pula saya mau pergi ikut perayaan peringatannya? Pernah bertemu juga tidak, kenal tidak, keluarga bukan, teman pun bukan. Tak ada hubungan darah, tapi ada komitmen dalam diri saya untuk selalu membangun kedekatan dengannya. Akhirnya, saya menemukan bahwa oleh darahnya saya pernah membangun komitmen untuk mengenal dan mencintai Tuhan dalam imamat pelayanan saya, yang pernah saya abdikan untuk umat di paroki ini.
Karena itu, pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita semua merenungkan ziarah hidup kita yang penuh lika-liku, yang kita mahkotai dengan peringatan hari ini dan kembali sebagai saksi Kristus.
Saudara.…Injil mengisahkan tentang inisiatif Tuhan yang hadir dalam situasi hidup yang sedang dialami manusia. Lukas melukiskan hal ini dengan sangat menarik dalam kisah sedih dua orang murid . Saat itu kedua murid sedang pulang ke kampung Emaus karena kecewa dan putus asa atas kematian Yesus. Harapan yang sempat mereka gantungkan ke pundak Yesus untuk menjadi raja yang membebaskan mereka dari penjajah Romawi kini sudah pupus. Yesus, tokoh yang mereka kagumi itu telah mati mengenaskan. Dalam situasi kehilangan harapan ini, Yesus hadir dan memperkenalkan diri-Nya, dengan terlibat dalam situasi batin mereka langkah demi langkah:
Ia mendekati dan berjalan bersama, berinisiatif terlibat dalam percakapan dengan melontarkan pertanyaan. Apakah yang kamu perbincangkan sementara kamu berjalan? Kedua murid nampak kesal dan mungkin jengkel. Pertanyaan ini seoleh menorehkan kembali luka yang belum sembuh. Karena itu mereka menanggapi pertanyaan orang yang tak mereka kenal ini dengan pertanyaan balik bernada dongkol: Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini? Atas tanggapan tak simpatik ini, Yesus bukannya diam. Ia malah merangsek maju dengan melontarkan pertanyaan berikut tanpa mau tahu resiko semakin kesalnya kedua murid: Apakah itu? Yesus mulai mengorek akar persolan yang sedang mereka perbincangkan. Yesus mengambil jurus katekese: menggiring kedua murid untuk menemukan sendiri akar masalah, dan membuka peluang ditariknya sebuah kesimpulan akhir. Umpan termakan. Kedua murid mulai berkisah panjang lebar tentang tokoh Yesus. Atas kisah itu, Yesus si orang asing itu maju selangkah lagi dan menghentak keluguan dua murid. Yesus mencela kelambanan hati mereka dan membersihkan kekalutan pikiran mereka dengan menghadirkan Kitab Suci. Hai kamu orang bodoh……..Bukahkah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk dalam kemuliaan? Ia pun menjelaskan isi Kitab Suci yang berbicara tentang diri-Nya. Sapaan Sabda ini menyentuh hati kedua murid, mereka pun melunak, terkesan dan tergugah untuk mengajak tinggal orang asing itu bersama mereka. Tinggalah bersama-sama dengan kami sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam. Di rumah tinggal inilah mereka mengenal Yesus pada saat Yesus makan bersama dan memecah-mecahkan roti. Terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia.
Saudara.… Ziarah kita hidup kita tak lepas dari pengalaman kecewa, sepert: sakit, gagal dalam usaha, hubungan yang tak harmonis, kematian orang yang dikasihi, dll. Kematian Beeker, bagi generasi yang mengalaminya tentu menjadi pengalaman sakit, kecewa dan mencekam. Namun bagi kita saat ini, justru telah menggerakan kita untuk semakin dalam mengenal Kristus. Kematian Beeker telah memanggil kita untuk berada di sini dalam pekan-pekan ziarah, dan berpuncak pada perayaan hari ini, dengan sapaan firman terhadap situasi hidup kita, seraya menyadarkan kita akan Tuhan yang selalu hadir:
• Tuhan selalu mendekati dan menemani perjalananmu;
Entah pengalaman sukses atau gagal, suka atau duka, hendaklah tidak membuat kita lupa akan Tuhan atau menjauhkan diri dari Tuhan. Sebab Ia kini masuk dalam situasi hidup dan berjalan bersama kita. Ia mendekati dan berjalan bersama seperti ia mendekati dan berjalan bersama dua murid ke Emaus. Karena itu dalam hidup ini perlu saat hening (diam) dan merenung tentang Tuhan yang tak pernah alpa menemani kita.
• Firman-Nya memiliki daya ubah;
Kekesalan karena pengalaman buruk sering membuat kita enggan saling menyapa, menghidari pertemuan, menjawab sapaan atau pertanyaan dengan ketus, dan segudang sikap negatif lainnya. Bahkan mungkin sampai menutup hati pada Tuhan. Hingga di titik ini sekalipun, Tuhan tidak akan membiarkn kita larut dalam rasa ingat diri yang menahun. Sabda-Nya menukik tajam menghujam di kedalaman hati -suka maupun tidak suka-, hingga melunakan dan menggerakan. Karena itu, di sela kesibukan berselancar di media sosial, perlu juga membaca Kitab Suci.
• Kristus adalah Kepala Meja;
Moment pengenalan dua murid terhadap Yesus terjadi di meja makan saat mereka makan bersama. Karena itu sesungguhnya makan bersama adalah momen paling indah semua rasa berpadu: antara kisah-kisah yang keluar dari mulut dan santapan yang masuk ke dalam mulut. Di sini, fokus kita adalah persaudaraan antar kita. Sementara itu di meja ekaristi fokus kita adalah persaudaraan antara kita dengan Kristus yang hadir dalam rupa roti. Hemat saya, baik di meja makan maupun meja ekaristi, kepala mejanya adalh Kristus. Karena itu di tengah keseibukanmu jangan lupa makan bersama dan ekaristi bersama.
Saudara.… oleh kesadaran akan keterlibatan Tuhan dalam keseharian kita, Peringatan Beeker dalam perayaan ekaristi ini akhirnya menjadikan kita murid-murid yang berani menjadi saksi iman. Dengan segera berdiri dan menjadi saksi Kristus seperti kedua murid yang langsung kembali ke Yerusalem dan bercerita tentang pengalaman pengenalan mereka akan Yesus. Petrus dengan tegas memberikan kesaksian akan Kristus yang bangkit melalui kotbah/bicara (bacaan pertama) dan melalui tulisan suratnya (bacaan kedua). Beeker menjadi saksi iman dengan menumpahkan darahnya. Kita menjadi saksi iman dengan: menjadikan Tuhan teman perjalanan, membiarkan Firman-Nya mengubah hidup, Mengenal Dia sebagai kepala meja. Pada lintasan hidup kita, Tuhan setia menemani dan tak pernah berhenti di tengah jalan.***
Watuwawer, 19 April 2026
Rm. Pius Laba Buri, Pr

Komentar