Oleh: RD Pius Laba Buri
HARI MINGGU BIASA XII
Yer 20:10-13 Rm 5:12-15 Mat 10:26-33
Setiap kita pasti pernah bahkan sering mengalami perasaan takut. Alasan takut pun berbeda-beda. Ada yang takut karena telah melakukan kesalahan, takut dikhianati atau disakiti, takut gagal, takut mayat, takut pada situasi tertentu, dll. Rasa takut itu dapat menghinggapi setiap orang sewaktu-waktu. Rasa takut kemudian diterima sebagai bagian dari hidup pribadi atau kepribadian manusia. Sering kali perasaan takut secara tak sengaja terbangun dalam diri seseorang sejak masa kecil melalui gambaran tentang suatu keadaan yang mencekam atau menyeramkan. Misalnya; supaya anak berhenti menangis selalu ditakuti dengan kata-kata ini: awas ada setan, awas orang gila, dll.
Bacaan pertama melukiskan tentang kondisi kritis yang dialami nabi Yeremia, yang berpotensi menimbulkan perasaan takut dalam dirinya. Nabi Yeremia adalah nabi yang paling banyak menderita; dikejar-kejar dan dianiaya. Sebagai manusia pasti ia dihantui perasaan takut. Namun keyakinannya akan penyertaan Tuhan membuat Yeremia tidak gentar, mampu menangkal segala tekanan. Hal ini membuat malu para penganiaya.
Situasi yang dialami nabi Yeremia adalah kondisi yang sering dialami oleh para murid Tuhan pada umumnya. Karena itu dalam perikop injil hari ini, Yesus memperingatkan sekaligus meneguhkan para murid agar tidak takut dan gentar terhadap berbagai kesulitan. Ucapan Yesus “jangan takut” merupakan pencurahan kekuatan yang memampukan para murid untuk melawan rasa takut, yang dapat menyebabkan mereka meninggalkan perutusan. Dalam wejangan-Nya ini, Yesus menegaskan beberapa hal perutusan sekaligus dorongan yang meneguhkan:
- Kerajaan Allah akan segera datang dan para murid harus bersaksi tentangnya (ay. 26-27). Dalam kesaksian ini para murid dipastikan menghadapi kesulitan meski kesulitan itu terselubung (musuh dalam selimut). Yesus memberikan jaminan bahwa yang terselubung itu pada saatnya akan terungkap. Jangan takut, tidak ada sesuatupun yang terselubung yang tidak terbuka, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak terungkap. Hal ini menggerakan kita untuk menelusuri keseharian kita. Kita sering berhadapan dengan orang-orang yang manis di bibir tapi getir dalam tindakan terselubung, muka lain belakang lain, depan kawan belakang lawan. Melemahkan tapi jangan sampai menyerah. Jangan takut, semuanya akan terungkap pada waktunya.
- Tantangan dan kesulitan dapat mencapai titik konflik terbuka atau frontal, “membunuh tubuh” (ay. 28-30). Para murid akan berhadapan dengan orang-orang yang secara terang-terangan melawan mereka. Dengan cara kasar-mematikan mereka menghentikan karya para murid dengan membinasahkan tubuh atau membunuh. Namun di sisi lain Matius melukiskan tentang sabda Yesus sebagai kekuatan luar biasa; bahwasannya para penentang atau lawan tak akan mampu membinasakan hidup manusia yang sesungguhnya, yakni hidup kekal. Pengalaman yang sama kita temui dalam hidup sehari-hari. Ada orang yang secara terang-terangan menentang karya pengabdian, pekerjaan dan pelayananmu. Mungkin ia berani dan bisa menentang tubuh-pribadimu yang menjalankan suatu tugas atau pekerjaan, tetapi ia tak mampu membunuh isi atau muatan dari pekerjaan itu. Sebab jika isi pekerjaan itu sungguh-sungguh dilandasi kebenaran dan demi kepentingan banyak orang maka kebenaran dan kepentingan banyak orang itu akan tetap hidup dan menjadi kekuatan menuju keberhasilan atau kesuksesan.
- Kesetiaan mengatasi ketakutan akibat ditantang memberikan mahkota pengakuan di hadapan Anak Manusia pada pernghakiman terakhir (ay. 31-33). Anugerah hidup kekal didasarkan pada kesetiaan terhadap Yesus selama menghadapi berbagai situasi sulit dalam menjalankan perutusan. Dalam kesetiaan ini ada sikap takut akan Allah, yakni hormat dan bakti. Ketakutan jenis inilah yang yang harus ada dalam diri kaum beriman. Ia bukan takut gagal, takut disakiti, takut melakukan kesalahan, takut ditantang, melainkan takut sebagai tanda hormat dan baktinya kepada Allah yang ia percayai.
Kata rasul Paulus, dosa memang telah menjalar dan masuk ke dalam dunia dan menghasilkan maut, tapi oleh kesetiaan Yesus Kristus kasih karunia Allah melimpah atas kita. Karena itu janganlah takut akan dunia tapi takutlah akan Allah.***
Wangatoa, 21 Juni 2026

Komentar