
Oleh: RD. Yohanis Angka Wokal, Pr
Saudara-saudari dalam perumpamaan yang dilukiskan Injil Mateus menghantar kita untuk menyelami kemurahan hati Allah, beda dengan ukuran keadilan yang dipakai oleh manusia. Kisah para pekerja yang menerima upah yang sama satu dinar, tidak dibedakan yang masuk awal pagi, siang maupun sore. Ternyata keadaan itu mendapat protes karena dirasa tidak adil, tidak memperhitungkan lama dan prestasi kerja dari para pekerja itu. Namun, tuan itu merasa tidak berbuat salah, dan tidak merugikan siapa pun, karena kesepakatan adalah mereka diberi upah satu dinar. Kesepakatan itu untuk upah setiap pekerja. Dan tuan telah memenuhi kewajibannya. Dan ia berkata, “saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu”,dan dilanjutkan, “Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari ?” jadi kesepakatan itulah yang mengikat. Bahkan, lebih lanjut tuan itu mengingatkan, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” ( Mateus 20:15 ).
Saudara-saudari…Kemurahan hati Allah ialah dengan bebas menggunakan milik-Nya menurut kehendak-Nya, tentu untuk kebaikan semua orang. Ia berlaku sangat adil. Kemurahan hati Allah ialah memberikan perhatian dan apa yang terbaik bagi semua orang, tanpa membedakan. Semua orang di mata Tuhan itu berharga. Ia mengasihi setiap orang secara pribadi. Dari kelimpahan kasih dan kemurahan hati-Nya manusia dianugerahi kebaikan, kesejahteraan dan keselamatan. Kita tidak perlu harus iri hati terhadap kebaikan dan kemurahan hati Allah. Allah itu baik dan penuh belaskasih. Hanya kita manusia sering membuat perbedaan dan berlaku serta berpikir tidak adil. Kita iri hati dan mungkin tidak mau terima dengan baik kalau ada orang yang hidupnya jauh lebih baik dari kita, yang lebih berhasil dari kita, atau lebih sehat dan lebih untung dalam hidupnya. Sementara kita tetap biasa saja, kita tetap mengalami kesulitan dan kegagalan, kita masih saja hidup susah dan menderita. Lalu kita mempersalahkan Allah. Merasa dan menilai bahwa Allah tidak adil, Allah pilih kasih, padahal kita diberi waktu dan kesempatan yang sama.
Dalam kenyataan, sering kali kita melihat secara tidak benar terhadap ganjaran yang diberikan Allah kepada manusia. Kita iri hati terhadap sesama yang baru berjuang sedikit, tetapi sudah mencapai kesuksesan yang sama dengan kita. Padahal, kita sendiri berusaha sangat keras baru bisa mencapai jenjang kesuksesan. Akibatnya, kita sering kali menggerutu, menganggap Tuhan tidak adil dan pilih kasih. Padahal, itulah bentuk kemurahan hati dari Allah. Sikap Allah ini juga merupakan kritik bagi diri kita yang sering kali melupakan sesama, sering kali merasa senang bila sesama masih terpuruk dan belum maju, bahkan juga kita sering kali malah merintangi sesama yang sedang berjuang meraih hidup yang lebih baik.
Tuhan selalu dan selamanya bermurah hati kepada setiap kita. Kemurahan hati-Nya menghantar kita untuk hidup Bahagia, Sejahtera dan memperoleh keselamatan. Maka marilah kita belajar dari kemurahan hati Allah, agar kita pun bermurah hati kepada sesame seperti Allah yang murah hati.
Allah mengajak kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati, terbuka untuk menolong sesama. Untuk berlaku adil, murah hati dan jujur, terkadang tidak disukai oleh orang lain, tetapi itu harus kita lakukan demi nilai hidup yang benar. Tuhan selalu dan selamanya bermurah hati kepada setiap orang. Kemurahan hati-Nya menghantar kita untuk hidup bahagia, sejahtera dan memperoleh keselamatan. Marilah, kita belajar dari kemurahan hati Allah, agar kita pun bermurah hati kepada sesama seperti Allah yang murah hati. ** Semoga ***

Komentar