Rohani
Beranda » Berita » Renungan Hari Raya Semua Orang Kudus, Minggu 1 November 2026

Renungan Hari Raya Semua Orang Kudus, Minggu 1 November 2026

Oleh: RD. Yohanis Angka Wokal, Pr)*

Wahyu 7:2-4,9-14; 1 Yohanes 3:1-3; Mateus 5:1-12a

SIAPAKAH ORANG KUDUS ITU?

Saudara-saudari. Pada hari minggu ini Gereja merayakan pesta semua orang kudus. Hari raya ini diadakan untuk menghormati para kudus, baik mereka yang sudah diakui resmi oleh gereja, maupun yang belum, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

Renungan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, Senin 2 November 2026

Perayaan ini dilandasi keyakinan bahwa ada ikatan spiritual yang kuat antara anggota gereja yang sudah berbahagia di surga dengan yang masih berjuang di dunia ini. Dengan keyakinan inilah Gereja menghormati semua anggotanya yang sudah menikmati sukacita abadi di surga.

Mereka yang telah memelihara dan menghayati imannya dengan baik dalam hidup sehari-hari sampai pada akhir. Paus Fransiskus mengatakan, “Kekudusan adalah wajah Gereja yang paling menarik. Juga di luar Gereja katolik dan dalam berbagai konteks yang sangat berbeda, Roh Kudus membangkitkan tanda-tanda kehadiran-Nya yang membantu para murid Kristus sendiri”.

Dalam Kitab Wahyu menyajikan Gambaran tentang sebuah penglihatan yang menakjubkan, yakni ada sekumpulan besar orang yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala suku dan bangsa, kaum dan Bahasa, yang telah setia melewati pencobaan dan kini berdiri di hadapan Sang Anak Domba. Kita diajak merenungkan bahwa semua orang, dari semua latar belakang, sesungguhnya dipanggil kepada keselamatan.

Gambaran ini juga mengajak kita menyadari bahwa kasih Allah itu melampaui perbedaan dan mempersatukan. Bacaan ini menegaskan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita dipanggil untuk hidup dalam pengharapan akan kasih Allah yang mempersatukan kita sebagai anak-anak-Nya. Pengharapan ini bukan pengharapan yang egoistis, melainkan sekaligus memanggil kita menyadari identitas sebagai sesama anak-anak Allah, yang selayaknya hidup saling mengasihi sebagai saudara. 

Setiap orang yang dibaptis menerima identitas baru sebagai anak-anak Allah, yang memang dipilih dan dipisahkan oleh Allah dari dunia ini, entah cara hidupnya, perjuangannya, kesaksian hidupnya, maupun sampai akhir hidupnya kelak. Inilah yang menjadi harapan iman setiap orang yang beriman pada Kristus, Sang Anak Domba Allah. Dalam Kitab Wahyu digambarkan tata dunia baru di mana Allah akan meraja dan berdaulat di antara seluruh ciptaan.

Perayaan Terpadu PKRW 2026, Deken Lembata: Wangatoa Multikultur dan Jadi Kekayaan Gereja

Yesus dalam Injil mengajarkan tentang Sabda Bahagia, jalan menuju kekudusan yang nyata, yaitu rendah hati, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati dan menjadi pembawa damai. “Bersukacitalah dan bergembiralah” kepada mereka yang dianiaya dan dihina oleh karena Dia.

Tuhan meminta segalanya dan Dia mengaruniakan kehidupan sejati. Dia menghendaki kita kudus, dan tidak mengharapkan kita puas diri dalam sikap tawar hati, suam-suam kuku, tidak konsisten. Sesungguhnya panggilan kepada kekudusan tampak dalam berbagai cara. Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menghayati hidup kita dengan kasih, setia memberikan kesaksian diri sendiri dalam kegiatan apapun.

Dalam sabda bahagia yang diwartakan Yesus, kita bisa menimba inspirasi bahwa pada akhirnya keadilan Allah-lah yang berdaulat. Keadilan Allah memutarbalikkan segala konsep palsu tentang kebahagiaan yang digembar-gemborkan oleh dunia. Apa yang dianggap oleh dunia sebagai orang marginal, justru kepada merekalah Allah berpihak. Allah-lah pembela mereka yang tertindas dan yang tidak mempunyai penolong.

Saudara-saudari. Kita diundang membawa terang Kristus ke dalam dunia virtual/dunia maya, dunia di mana orang sering kali sudah kehilangan empati karena tidak lagi langsung bertatapan dengan wajah-wajah yang membutuhkan pertolongan dan perhatian. Kekudusan dapat pula tercermin ketika kita menggunakan teknologi sebagai alat untuk melayani, bukan untuk menonjolkan diri atau menjadikannya ajang narsis, apalagi menciptakan perpecahan.

Paus Fransiskus mengatakan, saya senang melihat kekudusan yang ada dalam kesabaran umat Allah; dalam diri orangtua yang membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang sangat besar, dalam diri laki-laki dan Perempuan yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga mereka, dalam diri mereka yang sakit, dalam diri kaum religius lanjut usia yang tetap tersenyum.

Sambut 100 Tahun Minggu Misi Sedunia, Sekami PKRW Gelar Ragam Kegiatan Iman

Di dalam kegigihan perjuangan orang-orang kudus untuk terus maju hari demi hari, Paus melihat kekudusan dari Gereja yang militan. Karena itu, janganlah takut pada kekudusan.

Kekudusan tidak akan mengambil daya hidup dan kegembiraan kita. Justru sebaliknya, kita akan menjadi apa yang dikehendaki Bapa saat menciptakan kita, dan kita akan menjadi setia pada keberadaan kita sendiri.

Semoga, tuntunan Tuhan tetap membimbing hidup kita dalam kasih dan persatuan, menolak segala bentuk perpecahan, dan mewujudkan keadilan di tengah dunia saat ini. Tuhan, Engkau meraja atas alam semesta dan atas kami, anak-anak-Mu. Bukalah hati kami untuk melihat dan merasakan keagungan dan kebesaran kasih-Mu.***

*)RD. Yohanis Angka Wokal, Pr, Pastor Rekan Paroki Kristus Raja Wangatoa 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement