RENUNGAN
Beranda » Berita » Kasih adalah Kunci Hidup Yang Bahagia

Kasih adalah Kunci Hidup Yang Bahagia

Oleh: RD Yohanis Angka Wokal

Pastor Rekan Paroki Kristus Raja Wangatoa

Yehezkiel 33:7-9; Roma 13:8-10; Mateus 18:15-20

Saudara-saudari…. Dalam hidup pribadi, maupun hidup bersama tentu saja ada yang berbuat salah, entah sengaja maupun tidak sengaja. Sadar atau pun tidak sadar. Menjadi saudara atau teman yang baik, dan ketika salah seorang melakukan kesalahan, maka dengan cara yang baik kita harus berani untuk menegur dan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan itu salah. Sering kita menjaga perasaan, takut orang tersinggung dan marah; karena itu kita membiarkan dia dalam kesalahannya. Kita takut kalau persaudaraan atau persahabatan kita menjadi soal kalau kita mau dan berani menasehati, serta menegur sesama kita yang berbuat salah. Kita mudah memilih diam daripada harus menyampaikan apa yang sebenarnya. Kita bahkan mengatakan, biar ia nanti sadar sendiri.

Pada bulan September kita merayakan Bulan Kitab Suci Nasional. Gereja mendedikasikan bulan ini agar umat Kristiani lebih dekat dengan Sabda Allah. Gereja mengajak  umat untuk setia mendengarkan Sabda Allah dengan membaca dan merenungkan Sabda Allah yang tertulis dalam Kitab Suci. Dan kita merenungkan bulan Kitab Suci ini dengan tema: “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Melalui tema ini kita diajak untuk menatap kembali Wajah Yesus sebagai Guru Ilahi yang mengajar bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dengan Kuasa Kasih, Kuasa Kebenaran, dan Kuasa Keselamatan. Yesus tidak hanya memberi pengajaran, tetapi juga menghadirkan transformasi hidup. Ia mengajar dengan otoritas Ilahi yang memerdekakan manusia dari dosa, ketakutan dan keputusasaan ( Bahan Bulan Kitab Suci Nasional 2026 ).

Renungan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, Senin 2 November 2026

Saudara-saudari…Allah dalam Sabda-Nya menugaskan Nabi Yehezkiel untuk menjaga bangsa Israel. Yehezkiel harus menjalankan tugasnya dengan setia dan bertanggungjawab. Karena itu, Allah mengharapkan Yehezkiel mampu mendengarkan setiap Sabda-Nya dan melaksanakannya demi keselamatan bangsa Israel.

Seorang Nabi adalah corong bicara Allah yang menerjemahkan pikiran dan kehendak Allah untuk umat-Nya. Dia sadar bahwa tugas yang diembannya bukannya sesuatu yang ringan, dan tanpa risiko kehilangan nyawa. Maka bertobat tidak hanya bangsa Israel dari kehidupannya yang sesat itu, namun hendaknya banyak bergantung dari keikhlasan hati mereka dalam melayani. Yehezkiel menjalankan tugas pewartaannya dengan baik dan penuh tanggungjawab, maka ia tidak perlu bertanggungjawab atas kemalangan yang menimpa mereka yang tidak mendengarkan dan menerima Sabda Tuhan.

Akan tetapi, apabila orang-orang itu tidak melepaskan cara hidupnya yang lama, karena kelalaian sang nabi, maka Tuhan berfirman, “Bila engkau tidak menyampaikan firman yang Kukatakan kepadamu, maka Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya daripadamu.” Seorang Nabi harus memberi harapan kepada Israel bahwa dalam kesulitan apa pun Allah senantiasa memperhatikan mereka. Adalah menjadi tugas nabi mempertemukan manusia dengan Allah yang lembut dan penuh kasih, sehingga mereka berkembang dalam kasih Allah, “Hari ini bila mendengar suara Tuhan, jangan bertegar hati”, demikian ungkapan Mazmur 95:8.

Dari sudut pandang spiritual, tegar hati adalah salah satu hal yang paling buruk yang bisa terjadi dalam hidup setiap manusia. Memiliki sikap tegar hati berarti mengerdilkan diri. Hati yang tidak bisa merasa, tak bisa menanggapi, tak bisa mengasihi. Hati yang tak dapat menikmati kegembiraan. Hati yang tertutup. Hati yang kering nan tandus. Sebaliknya, hati yang lemah lembut adalah sebuah berkat. Hati yang dapat menerima dan menanggapi. Ia bisa saja mengalami kesedihan, tetapi juga dapat memancarkan kebahagiaan. Ia dilembutkan oleh hujan Rahmat Tuhan dan dihangatkan oleh matahari kasih Tuhan. Hati manusia yang bisa berubah dari padang gurun tandus nan gersang, menjadi sebuah taman yang indah.

Selanjutnya, dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma dan Injil mengungkapkan, kasih yang benar dan sejati merupakan rangkuman dari segala perintah yang berkaitan dengan sesama manusia. Kasih yang Ikhlas tidak cepat tersinggung, tidak gembira atas ketidakadilan, tak terbatas kesabarannya. Hanya manusia yang rendah hati dapat memahami dan menghayati keajaiban cinta sejati; selalu dan di mana saja bersedia mengampuni. Hanya kasih yang membuat kita layak menjadi pengikut Kristus, yang dengan rela menyerahkan hidup-Nya bagi kita yang berdosa, dan ucapan yang keluar dari mulut-Nya, ketika tergantung di salib adalah pengampunan. Karena itu, Sabda Tuhan mengundang seluruh Gereja untuk kembali belajar menjadi murid. Mendengarkan Yesus berarti membuka hati, membiarkan Sabda-Nya menegur, menghibur, mengarahkan, dan menguatkan hidup kita.  Sejalan dengan itu, dalam Bulan Kitab Suci Nasional ini kita diajak untuk membuka telinga dan mendengarkan Sabda Allah. Yesus sendiri dalam Injil mengajak kita untuk mendengarkan setiap teguran dari sesama kita sebagai bukti bahwa kita mengenal Allah. Ketika kita bersedia untuk mendengarkan sesama, pada kesempatan itu pula kita menghadirkan sukacita yang menyelamatkan, sekaligus mencegah perpecahan di antara kita.

YANG DIKASIHI TUHAN BERANI MENATAP SALIB

Akhirnya dari renungan ini, kami mengutip pikiran dari Bulan Kitab Suci Nasional 2026: melalui Gereja, mengajak umat kembali kepada satu suara utama: Suara Sang Guru Sejati, Yesus Kristus. Sebagai Gereja, umat Allah, dan dalam semangat Sinodalitas, Gereja sebagai umat Allah mendapat mandat untuk mewartakan Injil atau Kabar Baik yang dibawa oleh Yesus dan diteruskan kepada para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa. Dia adalah Terang Bangsa-bangsa atau Lumen Gentium, dan para murid yang mewartakan-Nya mesti menjadi seperti Terang yang Bercahaya di hadapan semua orang .   S e m o g a. ***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement