RENUNGAN
Beranda » Berita » YANG DIKASIHI TUHAN BERANI MENATAP SALIB

YANG DIKASIHI TUHAN BERANI MENATAP SALIB

Yeremia 20:7–9; Roma 12:1–2; Mateus 16:21–27

Oleh : RD Yohanes Angka Wokal, Pastor Rekan Paroki Kristus Raja Wangatoa

Saudara-saudari….Gaya hidup instan dan serba nyaman menjadi pilihan banyak orang. Fenomena ini mencerminkan kecenderungan untuk menghindari Salib kehidupan. Namun, Yesus dalam Injil hari ini justru menegaskan bahwa siapa yang ingin mengikuti-Nya harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti-Nya. Ini bukan panggilan untuk menderita demi menderita, melainkan untuk mencintai secara utuh.

Tokoh Petrus, yang baru saja menyatakan iman akan Yesus sebagai Mesias, justru ditolak keras saat ia menolak realitas Salib. “Enyahlah, Iblis,” kata Yesus, karena Petrus berpikir secara manusiawi, bukan Ilahi. Kita pun sering menolak Salib dalam bentuk kegagalan, kekecewaan, atau tuntutan moral yang sulit. Namun dalam iman, Salib bukan kutukan, melainkan jalan menuju Kasih yang sejati dan Keselamatan. Salib menyatukan kita dengan Kristus dan membawa kita keluar dari cinta diri menuju cinta yang memberi hidup.

Menjadi murid dan pengikut Yesus, juga ada tuntutan dan syarat yang harus dipenuhi oleh para murid dan pengikut-Nya. Bila tidak memenuhi syarat ini, ia tidak pantas menjadi murid dan pengikut Yesus yang berkualitas dalam karya, pelayanan, Pendidikan, keluarga, Gereja, dan Masyarakat, maupun dalam hidup. Dalam Injil, menampilkan tuntutan Yesus sebagai syarat menjadi murid atau pengikut-Nya. Syarat yang dituntut Yesus adalah: menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Dia.

Renungan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, Senin 2 November 2026

Menyangkal diri berarti mengatakan “tidak” kepada diri sendiri dan “Ya” kepada Allah. Menyangkal diri berarti harus melupakan dirinya sendiri dan menjadikan Allah yang paling penting dalam hidup. Selanjutnya, memikul Salib berarti berkorban, tabah, rela menderita dan bersedia meninggalkan segala kesenangan serta kenikmatan hidup karena telah mengikuti Kristus. Mengikuti Yesus berarti pola hidup-Nya menjadi pola hidup para pengikut-Nya. Dan berjalan dalam misi-Nya.

Salib bagi sementara orang dipandang sebagai beban. Salib sering ditakuti. Karena itu orang berusaha untuk mengelakkannya, menghindar dan tak mau menerimanya. Tapi bagi murid dan pengikut Yesus, Salib adalah bagian yang tak terpisahkan dari seorang murid Yesus. Jalan Yesus adalah jalan salib, jalan penderitaan. Tuntutan dan syarat ini memang tidak mudah. Menyangkal diri dan memikul Salib setiap hari, mau mengatakan bahwa tiada kemuliaan tanpa Salib dan penderitaan, tiada kebangkitan tanpa kematian dan tiada keberhasilan tanpa pengorbanan. Inilah jalan yang ditempuh Yesus, dan karena itu juga wajib hukumnya bagi setiap murid dan pengikut Yesus.

Hal yang sama juga terungkap dalam Kitab Nabi Yeremia bahwa, Yeremia merasa “ditangkap” oleh Allah untuk dijadikan Nabi dan diutus untuk mewartakan sabda Tuhan. Tugas perutusannya ditandai dengan aneka macam tantangan, penolakan dan perlawanan. Pewartaannya dihina dan diejek, pribadinya dicemooh dan diperlakukan secara tidak wajar, bahkan jiwa berulang kali diancam. Dia mengalami kesepian, ditinggalkan oleh teman, sahabat kenalan dan  keluarganya sendiri. Tak ada yang mendukung dan membelanya. Pengalaman pahit, kebingungan dan kegagalan telah membuatnya kurang percaya akan kebaikan dan kesetiaan Allah. Karena itu, ia mempertanyakan, ”Dapatkah Tuhan memperdaya orang pilihan-Nya?’ Apakah Tuhan telah memanggilku hanya untuk ditawan? Menjadi saksi hanya untuk tidak didengar? Menjadi utusan-Nya hanya untuk dikecewakan? Semua itu adalah salib yang dipikul oleh Nabi Yeremia. Semakin kuat cobaan untuk meninggalkan Tuhan sebagai tumpuan  berpijak, dan coba melupakan-Nya sebagai dambaan hati satu-satunya, semakin menyala-nyala kasihku terhadap-Nya. “Tuhan terlalu kuat menggenggam aku, sehingga aku tak sanggup melepaskan diri daripada-Nya.”

Saudara-saudari…..Tiap orang yang menginginkan damai sejati harus menaruh firman Allah ini dalam hatinya, yaitu bahwa, “Setiap orang yang kehilangan nyawanya karena Aku akan memperolehnya” itu artinya, Yesus mau mengatakan kepada kita kebenaran ini: Tiada Kemuliaan tanpa Salib, Tiada Kebangkitan tanpa Kematian, dan Tiada Paskah tanpa Jumat Agung. Penderitaan dan Kematian bukanlah titik akhir dari segala sesuatu, melainkan jalan menuju kepada kehidupan. Bukankah benih gandum harus jatuh ke tanah dan mati, agar dapat menghasilkan banyak buah? Kebahagiaan sejati itulah satu-satunya tujuan hidup yang hanya bisa tercapai melalui Salib, penyangkalan diri dan penghayatan semangat Injil tanpa hentinya.

Lebih lanjut dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma, dikatakan hidup yang benar ditemukan dalam persembahan diri yang Ikhlas. Dan itu berarti hidup yang selaras dengan kehendak Tuhan melalui ibadat yang benar dan liturgi yang mempunyai arti. Itulah persembahan diri sendiri sebagai kurban yang hidup.  Santo Paulus berkata bahwa, untuk menghormati dan melayani Tuhan, seseorang harus mengubah diri sedemikian rupa, sehingga hidupnya bukan lagi berpusat pada diri sendiri, tetapi supaya berakar dalam Kristus, seperti bunyi firman ini, “Hatiku haus dan rindu akan Dikau, ya Tuhan Allahku.”

Perayaan Terpadu PKRW 2026, Deken Lembata: Wangatoa Multikultur dan Jadi Kekayaan Gereja

Salib bisa berwujud komitmen menjaga kejujuran di tengah tekanan korupsi, merawat anggota keluarga yang sakit dengan sabar, menolak ikut menyebar kebencian di media sosial, atau mendampingi mereka yang tersingkir. Memikul Salib adalah melibatkan diri secara aktif dalam penderitaan sesama. Maka, mari kita tidak malu menjadi murid Kristus yang memikul Salib, sebab dalam Salib ada harapan, ada kebangkitan, dan ada hidup yang kekal. Kita mohon kepada Tuhan, ajarilah kami mengenali Salib dalam hidup kita dan menerimanya dengan iman. Hendaklah kita mau memikul Salib penderitaan kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita mengikuti Tuhan Yesus dengan menyerahkan hidup kita pada Dia, supaya kita memperoleh hidup kekal sebagai anugerah Istimewa dari Tuhan.  Kita harus meyakini hal ini supaya kita menjadi murid Kristus yang sejati. Dan kita pun tak kecewa mengikuti-Nya walaupun hidup kita penuh tantangan dan derita. Kita percaya bahwa Dia akan menolong dan menyelamatkan kita sampai pada kehidupan kekal.

Semoga kita menjadi murid dan pengikut Yesus yang berkualitas dengan memenuhi syarat, menyangkal diri dan memikul Salib setiap hari dengan penuh sukacita sambil berjalan bersama Yesus yang telah menunjukkan jalan itu bagi kita. Tidak ada jalan lain dan tidak ada pilihan lain. Karena hanya dengan demikian kita memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan hidup-Nya.  S e m o g a .

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement