Kebijaksanaan 12:13.16-19; Roma 8:26-17; Mateus 13:24 34
Romo Yohanes Angka Wokal, Pr
Pastor Rekan PKRW
Saudara-saudari….. Dalam hidup kita sering kurang sabar dan mungkin saja putus asa, Ketika menghadapi berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Sering muncul pertanyaan dalam hati kita, Mengapa kejahatan selalu ada? Mengapa orang jahat masih saja berlaku jahat dan seolah dibiarkan hidup. Malah, semakin saja bertambah dan seolah semakin berani kejahatan-kejahatan itu terus meraja lela di mana-mana. Di pihak lain juga, ada orang-orang baik banyak menjadi korban dari perilaku orang-orang jahat itu. Kita semakin tidak mengerti dan boleh jadi menjadi putus asa dan seolah bertanya, Mengapa Tuhan masih terus membiarkan orang jahat itu hidup, bahkan banyak yang senang-senang menikmati hasil dari kejahatannya.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka melalui Injil Mateus, Yesus menyampaikan ajaran-Nya dalam perumpamaan tentang gandum yang tumbuh bersamaan dengan ilalang. Bagi kebanyakan petani, system pertanian yang membiarkan rumput atau ilalang tumbuh bersamaan dengan tanaman adalah tidak biasa. Sebab hal itu akan mengurangkan hasil yang bisa dipetik. Para petani akan selalu berusaha membersihkan atau mencabut ilalang atau rumput yang mengganggu pertumbuhan tanaman, sehingga dia bisa memberikan hasil yang banyak. Maka kisah perumpamaan Yesus ini rasanya kurang pas atau kurang cocok sesuai dengan yang dilakukan oleh para petani. Tetapi di sini Yesus justru mau menunjukkan beda pola pikir yang digunakan Allah.
Bagi Yesus, perumpamaan itu menggambarkan perlakuan Allah terhadap orang-orang berdosa atau orang-orang yang tidak menerima pewartaan-Nya. Yesus mau menunjukkan kesabaran Allah itu tanpa batas. “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai musim panen tiba. Pada waktu itu Aku akan berkata kepada para penuai: kumpulkanlah dahulu Lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbung-Ku.” Allah yang maha sabar itu senantiasa memberi kesempatan sampai pada batas-batas yang paling jauh dan mendalam.
Tuhan tetap sabar pada hidup kita. Ia tetap memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat. Berbeda dengan Lalang yang memang tidak bisa berubah menjadi gandum dan menghasilkan buah. Kita bisa berubah dari pribadi yang berdosa menjadi pribadi yang bertobat. Mari kita saling membantu agar benih-benih ilalang itu tidak bertumbuh, apalagi berurat berakar dalam hati kita. Di dalam keluarga, komunitas dan Masyarakat misalnya, kita bisa saling mendengarkan teguran atau masukan dari satu sama lain. Kita hendaknya memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahan kita dan memperbaikinya. Tuhan amat sayang pada hidup kita, dan selalu ingin menyelamatkan kita. Semoga kita mampu bertahan dan menghasilkan buah, dan tidak menjadi Lalang yang kelak akan hilang binasa karena dibakar oleh api penghakiman. Mari kita tetap kuat dan teguh dalam iman akan Kristus, Ketika dihadapkan pada tantangan dan kesulitan hidup yang menggoda kita untuk mencari kekuatan di luar Dia. Mampukah kita bertumbuh dalam situasi yang sulit dan tetap melakukan kebaikan di tengah situasi ketidakadilan dan kejahatan?
Tuhan selalu mengungkapkan wajah Allah yang penuh kesabaran, belas kasih dan kerahiman. Di tengah dunia yang sering dipenuhi kejahatan, kebencian, ketidakadilan, perpecahan dan permusuhan, tidak segera menghukum manusia. Sebaliknya, Ia memberi waktu agar setiap orang bertobat dan kembali kepada-Nya. Kesabaran Allah bukanlah tanda kelemahan, tetapi ungkapan Kasih-Nya yang tanpa batas.
Demikian Kitab kebijaksanaan menegaskan bahwa kekuasaan Allah justru tampak dalam belas kasih-Nya. Allah yang Mahakuasa itu tidak bertindak sewenang-wenang. Ia mengajar hidup manusia untuk berlaku adil dan penuh belas kasih.
Dan Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, melukiskan tentang penghiburan yang luar biasa. Ketika kita lemah dan tidak tahu bagaimana harus berdoa, Roh Kudus sendiri hadir dan membantu kita, serta berdoa bagi kita menurut Kehendak Allah. Itu berarti, hidup kita tidak pernah sendirian. Bahkan dalam kelemahan, Tuhan tetap bekerja serta bertumbuh dalam hati kita yang penuh keberdosaan.
Perumpamaan tentang gandum dan Ilalang, Ketika tumbuh bersamaan pemilik kebun tersebut ingin segera mencabut Lalang itu. Tetapi Tuhan berkata: “jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu panen.” Ini bukan berarti Tuhan menyetujui kejahatan yaitu ilalang sendiri. Sebaliknya, Tuhan menunjukkan kesabaran-Nya. Ia memberikan kesempatan gandum untuk bertumbuh, yaitu kepada manusia untuk bertobat sebelum penghakiman terakhir.
Untuk itu, Yesus mengajak kita memeriksa hati kita sendiri: Adakah Lalang yang masih tumbuh dalam diri kita? Adakah berupa iri hati, dendam, pertikaian, permusuhan, ketidakjujuran, ketidakadilan dan ketidakpedulian hidup kita kepada sesame? Semuanya itu dapat kita hindari apabila kita mau bertobat. Kesabaran Tuhan mengajak kita untuk segera berubah, kembali ke jalan yang baik dan benar. Tuhan pasti memberi waktu dan kesempatan untuk memperbaiki hidup kita. Hendaknya kita banyak berdoa, banyak kita berbuat kasih dan pengampunan. Dan pada saatnya, setiap orang mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah.
Semoga kita menjadi gandum yang baik dan layak dikumpulkan ke dalam lumbung Kerajaan Surga. Sebab lahan yang bersih, gandum akan bertumbuh baik dan menghasilkan buah berlimpah; itulah kehidupan umat beriman yang diharapkan Allah kepada kita semua. ***

Komentar