Yesaya 55:10-11; Roma 8:18-23; Matius 13:1-23
Romo Yohanes Angka Wokal, Pr
Pastor Rekan PKRW
Saudara-saudari…. Setiap hari orang bisa mendengar begitu banyak suara dan nasehat silih berganti, tetapi tidak semuanya mampu mengubah hidupnya. Sering kali Firman Tuhan pun hanya singgah di telinga, tanpa benar-benar meresap ke dalam hati, sehingga Ketika cobaan dan godaan dunia datang, iman menjadi lemah dan mudah goyah.
Dalam Kitab Yesaya memberikan Gambaran bahwa Firman Tuhan seperti hujan dan salju yang turun dari langit. Air hujan tidak Kembali ke langit dengan sia-sia; ia membasahi bumi, menyuburkannya , dan menumbuhkan benih untuk kehidupan. Demikian pula firman-Nya yang diperdengarkan kepada kita bagi kaum beriman, kiranya bisa sungguh masuk dan meresap ke dalam hati setiap orang. Sebab,semua yang diberi berupa janji, teguran dan arahan yang keluar dari mulut Allah pasti akan terlaksana sesuai kehendak-Nya. Kalau Sabda itu tampak tidak menghasilkan perubahan, persoalannya bukan pada Sabda Tuhan, melainkan pada kesiapan hati manusia untuk menerimanya.
Melalui nabi Yesaya ini kita diyakinkan bahwa Sabda Allah tidak pernah sia-sia. Demikian dalam bacaan surat santo Paulus kepada jemaat di Roma, mengingatkan bahwa penderitaan hidup sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Untuk menunjukkan kemuliaan Allah menjadi nyata di tengah dunia.
Selanjutnya melalui Injil Matius, Yesus menyampaikan salah satu perumpamaan yang paling terkenal yaitu perumpamaan tentang Penabur. Menariknya, focus utama perumpamaan ini bukanlah pada benih atau penaburnya, melainkan pada “Keadaan tanah tempat benih itu jatuh”. Yesus mengajarkan berupa perumpamaan tentang penabur, yaitu mengajak kita memeriksa keadaan hati kita: Apakah hati menjadi tanah yang keras, berbatu, penuh Semak duri atau tanah yang subur. Untuk menjelaskan arti tanah itu, Yesus menunjukkan dalam perumpamaan dengan empat jenis tanah.
- Ada tanah di pinggir jalan: hal itu menunjukkan hati yang keras, hati yang tertutup, dan tidak mau mendengarkan Sabda Tuhan yang hanya lewat di telinga tanpa masuk ke dalam hati,
- Ada tanah berbatu: orang selalu bersemangat Ketika mendengar Sabda Tuhan, tetapi tidak memiliki akar. Ketika mengalami kesulitan dan tantangan, dan orang itu akan segera menyerah,
- Ada tanah yang penuh Semak duri: seseorang memilik iman, tetapi hatinya dipenuhi kecemasan, keserakahan dan godaan dunia sehingga Sabda Tuhan tidak bertumbuh dan berkembang,
- Ada tanah yang subur: orang yang punya hati untuk mendengarkan sungguh Sabda Tuhan, merenungkannya, melaksanakannya, dan menghasilkan buah yang berlimpah.
Saudara-saudari…. Sabda Tuhan akan menghasilkan buah bila diwujudkan dalam hidup nyata: menjadi pribadi yang jujur, murah hati, suka mengampuni, tekun berdoa, mencintai keluarga, peduli kepada orang miskin dan membawa damai di tengah Masyarakat.
Hari ini, Yesus mengajak kita untuk tidak puas hanya menjadi pendengar Sabda. Ia menghendaki kita menjadi pelaksana Sabda, sehingga hidup kita menjadi seperti tanah yang subur, menghasilkan buah ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat dan bahkan seratus kali lipat. Sabda Allah itu adalah benih kehidupan. Ia memiliki potensi untuk mengubah kita menjadi lebih baik, membawa kedamaian, sukacita dan pengharapan. Namun, potensi itu hanya akan terwujud jika kita memberikan tempat yang baik bagi Sabda itu di dalam hati kita. Mari kita memohon Rahmat agar kita memiliki hati yang lembut sehingga Sabda Allah dapat berakar kuat dan menghasilkan buah kebaikan dalam setiap aspek kehidupan kita.
Semoga ada tanah yang subur dapat menghasilkan buah berlimpah. Karena tanah yang subur melambangkan hati yang terbuka, yang mendengarkan dengan pengertian, dan yang menyimpan Sabda Allah dalam ketaatan. Hari ini, mari kita merenungkan kondisi hati kita. Apakah kita seperti tanah yang subur, siap menerima dan menghidupi Sabda Allah? Atau adakah “jalan” kedegilan, “batu” ketidaktekunan, atau “duri” kekhawatiran duniawi yang menghalangi Sabda itu berakar dan berbuah dalam hidup kita? Marilah kita bersyukur atas Sabda Tuhan yang penuh kuasa dan kehidupan. Kiranya Dia dapat lembutkan hati kita agar menjadi tanah yang subur bagi benih Sabda-Nya. Berikanlah hati kita penuh pengertian untuk memahaminya dan kekuatan untuk menghidupinya sehingga kita dapat menghasilkan buah yang berlimpah dan memuliakan nama-Nya. (*)

Komentar