Oleh: RD Pius Laba Buri
HARI RAYA TRITUNGGL MAHAKUDUS
Kel 34:4b-6.8-9 2Kor 13:11-13 Yoh 3:16-18
Bapak, Ibu, Saudara/i, yang terkasih dalam Kristus,…
Ketika masih mengenyam pendidikan dan pembinaan sebagai Frater di lembaga calon imam, di satu kesempatan di meja makan seorang adik tingkat mengajukan sebuah pertanyaan untuk kami semua (anggota meja). Ia mengawalinya dengan sebuah kisah, katanya;
“Seorang profesor ilmu alam mengisi liburannya dengan berburu di hutan. Sendirian. Tembakannya terhadap sasaran binatang buruan selalu meleset. Hingga peluru terakhir yang ia lesakan pun tidak mengenai sasaran. Di saat ia telah kehabisan peluru, seekor harimau lapar bergerak mendekat dan mengejarnya. Sang profesor berlari menyelamatkan diri dengan memanjat pohon. Celakanya harimau tetap menunggu di bawah pohon. Menembak tidak mungkin karena ia telah kehabisan peluru. Menurut Anda, apa yang harus dilakukan oleh sang profesor agar ia bisa lolos dari serangan harimau yang masih tetap menunggunya di bawah pohon?”
Kami semua berpikir sejenak namun menyerah karena tidak menemukan jawaban yang tepat. Adik kelas itu pun berkata, “Profesor ilmu alam saja tidak tahu harus buat bagaimana apa lagi kamu yang muka bodoh begini”. Disambut gelak tawa anggota meja.
Untuk persoalan manusia saja, kadang manusia sulit menemukan jawaban, apa lagi hendak menyelami misteri Allah Tritunggal Mahakudus, Tuhan yang melampaui batas ruang dan waktu.
Banyak orang pintar sibuk berdiskusi tentang Tritunggal secara matematis. Berjuang untuk menyingkap misteri Allah yang satu dalam tiga atau tiga dalam satu. Bila kita semata-mata hendak memahami Tritunggal dari sudut pandang matematis (angka-angka yang masuk dalam logika berpikir) maka bukan tidak mungkin kita akan jatuh pada kekeliruan dan ekstrim penolakan terhadap Allah. Sebab kemampuan akal budi kita terbatas dan tak akan sampai pada titik terang yang memberikan jawaban. Kita bisa menemukan jawaban bila kita mengasah keyakinan bahwa realitas yang mau diwahyukan dalam Allah Tritunggal adalah hubungan, persatuan erat antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, yang hadir dalam perannya yang khas atau unik. Allah Bapa tidak berkarya sendiri tapi melibatkan Putera dan Roh Kudus. Pada hakekatnya, ketiganya berperan untuk membawa manusia kepada tujuan yang sama yakni keselamatan.
Allah Bapa yang kita imani sebagai Pencipta, Dia telah menjadikan segala sesuatu baik adanya (bdk. Kisah penciptaan). Dalam perjalanan, oleh kelemahan-kelemahan manusia maka yang baik yang diciptakan Bapa berubah menjadi keburukan karena dosa yang menyeret manusia ke dalam situasi tidak selamat. Karena itu Putera hadir dan berkarya untuk menebus. Dalam menjalankan karya penebusan ini Putera tidak melakukannya dari diri-Nya sendiri, melainkan seturut kehendak dan petunjuk dari Bapa (Bdk. Injil). Namun oleh karena manusia sering mangkir terhadap misi penyelamatan yang ditawarkan Putera maka Roh Kudus diutus untuk meneguhkan/menguatkan. Roh Kudus tidak berkata-kata tentang apapun selain dari mengingatkan apa yang disabdakan oleh Putera. Ketiganya hadir dengan peran yang berbeda tetapi memiliki relasi kasih sebagai ‘Satu’ yang erat, relasi ilahi yang menyelamatkan dunia.
Hubungan dan persatuan kasih yang erat inilah yang diajarkan Gereja dalam dogma Tritunggal Mahakudus. Karena itu mengakui dan menghayati keberadaan Allah Tritunggal Mahakudus adalah iman terhadap Allah yang Mahapengasih dan penyayang, yang hadir dalam seluruh peziarahan manusia. Dalam bacaan pertama ditegaskan bahwa Allah memaklumkan diri sebagai pengasih dan penyayang kepada Musa. Musa meminta penyertaan Tuhan meski bangsa yang dipimpinya adalah bangsa yang berdosa. Rasul Paulus menasehatkan jemaat di Korintus (bdk. Bacaan kedua) bahwa kasih Allah itu akan menyertai dan dinikmati oleh manusia jika manusia hidup dalam persatuan dan damai sejahtera. “Hendaklah kamu sehati sepikir dan hiduplah dalam damai sejahtera. Maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera, akan menyertai kamu”. Paulus menasehatkan agar jemaat hidup dalam relasi yang tulus atas dasar kasih.
Sebagai komunitas umat beriman, kita dipanggil untuk menjaga harmoni atas dasar kasih yang tulus, menghargai keunikan peran sebagaimana spirit Allah Tritunggal Mahakudus. Dalam iman akan Allah Tritunggal Mahakudus kita dipanggil untuk menjaga harmoni dan kualitas pelayanan dalam keseharian, di setiap bidang kehidupan yang kita gumuli, yang selalu melibatkan kita untuk ada bersama dan kerja bersama. Di sana kita berhadapan dengan fakta perbedaan peran, tugas dan tanggung jawab. Bila Allah Tritunggal yang menjiwai kita maka tak akan ada niat menonjolkan diri dan mengejar nama besar, selain dari tujuan bersama yakni kebaikan bersama (bonum comune). Sukses bukan karena saya, gagal bukan karena dia. Semuanya karena kita. Seperti eratnya relasi kasih dalam Allah Tritunggal, yang menyelamatkan manusia dalam kesatuan peran pencipta, penebus dan peneguh, demikianlah kita menjalankan peran yang berbeda merawat kebersamaan dalam kasih Allah Tritunggal Mahakudus.***
Wangatoa, 31 Mei 2026

Komentar