RENUNGAN
Beranda » Berita » Lebih Baik di sini

Lebih Baik di sini

 RD. Pius Laba Buri

Kis 6:1-7      1Ptr 2:4-9      Yoh 14:1-12

Ilustrasi:

Rumah dan Langit

Seorang anak laki-laki kecil ingin mengunjungi tempat di mana langit dan bumi bersatu. Dia bisa melihatnya dengan sangat jelas dari rumah ibunya dan dia pikir tempat itu pasti indah.

San Fransisco Futsal Club Beri Hadiah Jambu Kristal

Dengan kedua matanya tertuju ke cakrawala, tempat pertemuan langit dan bumi, pada suatu hari dia mulai berjalan. Dia terus berjalan sampai ia menjadi sangat lelah. Sekarang ia berada di sebuah lembah di mana cakrawala tersembunyi dari pandangannya. Di dekat itu ada sebuah rumah, dan seorang perempuan sedang berdiri di pintu. Dia memberitahu wanita itu tentang usaha pencariannya, dan Wanita itu menunjukkan sebuah rumah yang tidak terlalu jauh.

“Di sana”, katanya, “Hanya agak cepat karena hari akan segera menjadi gelap”. Dia segera bergegas mendaki sebuah bukit yang membawanya ke rumahnya sendiri. Di sana, di pintu masuk, berdirilah ibunya melambaikan tangan kepadanya.

“Rumahku sendiri”, pikirnya, “adalah tempat di mana langit dan bumi bertemu”.

(Dari: 1500 Cerita Bermakna, Jilid II hal. 112)

Ia melihat ada keindahan nun jauh di sana, ia pun berjuang meraihnya. Ternyata keindahan itu ada dalam rumahnya sendiri.

Renungan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, Senin 2 November 2026

Bapak, Ibu, Saudara/i, yang terkasih dalam Kristus,…

Keindahan nun jauh disampaikan oleh Yesus dalam gambaran tentang “Rumah Bapa”, pada amanat perpisahan. Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal. Sebuah gaya penyampaian yang mengandung maksud tersembunyi. “Banyak tempat tinggal” berarti Rumah Bapa merupakan tempat yang membahagiakan siapa saja. Rumah itu membangkitkan semangat hidup dan orang yang tinggal di situ menjadi betah/kerasan. Yesus tidak mennyebut Rumah Bapa ‘besar dan luas, yang dapat menampung semua rasul dan semua orang yang percaya. Sebab yang besar dan luas, mewah dan menakjubkan mata belum tentu membuat betah dan bahagia.

Rumah yang ‘banyak tempat tinggal’ itu sungguh menjanjikan karena Yesus sendiri yang mendahului pergi ke sana untuk menyediakannya. Lebih dari itu, Yesus sendiri merelakan diri-Nya sebagai pemandu, jalan untuk mencapainya. Di sanalah  tujuan ziarah semua orang yang percaya, di sanalah tempat tinggal keabadian bersama Bapa.

Amanat Yesus, selanjutnya memicu dialog saat Yesus menyatakan bahwa para murid sudah nmelihat Bapa, si pemilik rumah itu. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia. Filipus, salah seorang murid meminta Yesus untuk menunjukkan Bapa, si penghuni dan pemilik rumah itu kepada mereka. Menanggapi permintaan Filipus, Yesus menegaskan bahwa “siapa yang melihat Dia, melihat Bapa”. Itu berarti Bapa sedang tinggal dan ada bersama mereka, dan mereka sedang berada dalam rumah sukacita. Sebab di mana ada Bapa di situ ada sukacita dan damai. Para murid yang sedang ada bersama Yesus, sedang ada bersama Bapa dan merasakan sukacita. Dengan demikian sukacita di Rumah Bapa kekal yang disediakan oleh Yesus sudah dimulai saat ini dan di sini.

Saudara,…. Janji Yesus tentang keindahan Rumah Bapa yang banyak tempat tinggal, menggugah kita dan menumbuhkan rasa tertarik yang melahirkan sikap-sikap kita berikut ini:

Perayaan Terpadu PKRW 2026, Deken Lembata: Wangatoa Multikultur dan Jadi Kekayaan Gereja

  • Kita sedang melabuhkan mata kita ke rumah itu dan mengaguminya keindahannya. Hal ini terbaca dari doa-doa (terutama permohonan keselamatan) yang kita naikan ke hadirat-Nya.
  • Kita telah memilih melangkah menuju rumah itu, ketika kita menaruh percaya dan tetap percaya kepada-Nya.
  • Kita menata langkah kita agar tidak goyah, dengan terlibat dan peduli akan aneka kegiatan pelayanan baik dalam Gereja maupun dalam masyarakat.

Oleh sikap-sikap iman tersebut kitapun menyadari ternyata rumah Bapa yang kita dambakan sesungguhnya sudah, sedang dimulai dan kita alami dalam rumah kita sendiri. Karena itu buatlah rumah kita nyaman untuk dihuni. Ada pintu yang terbuka menanti kita pulang, ada jendela dan ventilasi yang menjadi saluran segarnya udara, ada suara tawa penghuninya yang menghiasi ruang-ruang atau kamar-kamar, ada rasa lega dalam bersandar setelah letih, ada nyala lilin kecil di pojok sembahyang, ada suara dari mulut dan hati yang tak pelit mengucapkan kalimat pendek ‘terimakasih dan maaf’. Ciptakan ruang pelayanan adil-merata satu terhadap yang lain di rumah kita seperti para rasul kreatif menciptakan pelayanan adil-merata kepada jemaat (bdk. Bacaan pertama). Bangunlah rumah kita dengan batu penjuru Yesus Kristus, batu yang telah dibuang namun berkenan di hadirat Allah (bdk. Bacaan kedua).

Saudara,…Ziarah menuju Rumah Bapa yang disediakan Yesus kita mulai dari rumah kita. Itu berarti ketika pendakian kita berbuntut lelah, akan selalu membawa kita pulang ke rumah tinggal kita sendiri. Karena itu jadikanlah terlebih dahulu rumah kita ‘banyak tempat tinggal’.  Agak lebih cepat karena hari akan segera menjadi gelap. Lebih baik di sini, rumah kita sendiri.

Wangatoa, 3 April  2026, pada misa kedua, HARI MINGGU PASKAH  V

Komentar

  1. Felicia Ose berkata:

    Terima kasih Romo atas renunhannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement