IMAM RENUNGAN Rohani SUARA GEMBALA
Beranda » Berita » Daya yang tak Kelihatan

Daya yang tak Kelihatan

Oleh: Rm. Pius Laba Buri, Pr

Pastor Paroki Kristus Raja Wangatoa

HARI MINGGU PASKAH  VI

Wangatoa: Misa   I 

Kis 8:5-8.14-17   1Ptr 3:15-18  Yoh 14:15-21

Renungan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, Senin 2 November 2026

Bapak, Ibu, Saudara/i, yang terkasih dalam Kristus…

Seorang imam yang berkarya di sebuah paroki, berselisih pendapat dengan umatnya dan para pengurus Dewan Pastoral. Persoalan mereka tak kunjung terurai. Bapa uskup turun tangan, memanggil masing-masing pihak untuk mendengarkan mereka pada kesempatan yang berbeda. Bapa uskup menarik kesimpulan bahwa persoalan bukan terletak pada umatnya tapi pada imamnya. Bapa uskup memanggil imam itu lalu berkata: “Romo, persoalan ini tentu melelahkanmu. Karena itu saya minta supaya romo mengambil kesempatan dalam waktu dekat ini untuk retret, menimba kasanah rohani. Setelah retret lanjutkan dengan berlibur. Waktu sebulan pas untuk romo. Urusan paroki ditangani oleh pastor rekan”. Ternyata Bapa uskup bermaksud supaya dengan mengambil jarak, menarik diri sejenak dari rutinitas, menimba kekuatan rohani, doa dan refleksi serta liburan, imamnya itu diharapkan dapat menemukan  duduk persoalan, berikut menyadari kekeliruannya dan pulang dengan semangat baru untuk melanjutkan pelayanan umat.

Saudara,…Manusia  berhadapan dengan banyak tuntutan baik kebutuhan maupun keinginan, yang kerap memacu dan memaksa untuk segera memnuhinya. Semakin lama dan jauh berpacu, tenaganya semakin melemah dan  dapat merasa lelah. Apalagi bila diperhadapkan dengan aneka kesulitan dan tantangan. Untuk memulihkan kekuatannya, ia butuh ngecas demi mendapatkan daya baru melalui cara-cara, antara lain: makan-minum, istirahat, rekreasi, olahraga, berdoa, syering antar pribadi, konsultasi, diskusi/tukar pikiran, dll.

Yesus tahu bahwa penderitaan tragis yang akan segera Ia jalani menjadi goncangan dan tekanan bagi para murid yang Ia percayakan mengemban tugas perutusan. Daya jasmani tak akan pernah cukup untuk membuat mereka bertahan dalam perutusan. Karena itu, sebelum Ia kembali ke rumah Bapa, Ia memberikan amanat yang menjadi rambu-rambu perutusan dan mengisi daya baru. Isi amanat itu adalah “Kasih” terhadap Yesus, Guru dan Tuhan. Kasih ini akan mengarahkan kesetiaan seseorang untuk melaksanakan apa yang Ia perintahkan. Kasih menjaga alur dan irama seorang murid agar tidak keluar dari jalur tanggung jawab yang dipercayakan. Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Yesus tahu, menjalankan perintah-Nya berarti siap berhadapan dengan rupa-rupa penderitaan. Karena itu Ia menjanjikan seorang penolong yakni Roh Kudus, Roh Kebenaran. Roh inilah yang menjadi daya, mengisi ruang kosong kelelahan dan putus asa dengan kekuatan dan semangat baru. Dengan terus terang Yesus menyatakan bahwa Ia tidak akan meninggalkan para murid sebagai yatim piatu. Ia akan datang kemabali dan senantiasa menyertai.

Saudara,… Di tengah dunia yang memiliki daya goda tingkat tinggi, setia mengasihi dengan taat perintah dan memelihara iman bukanlah perkara mudah. Kelemahan manusiawi sebagai bawaan plus pengaruh situasi dan tekanan hidup sosial menjadi tantangan dalam merawat kesetiaan pada panggilan hidup yang sedang kita emban. Godaan ‘memiliki lebih’ membuat kita berjuang ekstra keras untuk mengais perolehan dengan cara tak halal, memperlihatkan kesan serakah. Godaan untuk hidup seadaanya membuat kita tidak serius dalam bekerja atau berbuat ‘asal jadi’ bahkan lalai terhadap tuntutan tugas yang seharusnya dituntaskan. Godaan untuk hidup bebas membuat kita lari dari tanggung jawab yang semestinya diemban. Kita terjerumus dalam menyerah, terhimpit persoalan seolah tanpa jalan keluar, menuntut didengarkan tanpa mau mendengarkan.

Perayaan Terpadu PKRW 2026, Deken Lembata: Wangatoa Multikultur dan Jadi Kekayaan Gereja

Pada hari ini, Kristus yang kita imani menyadarkan kita akan Penolong, Roh Kebenaran yang pernah Ia janjikan. Roh, Penolong itu akan hadir dan mengurai segala benang kusut tindakan keliru manusia. Roh itu bukan miliki orang per-orangan atau sekelompok orang tertentu. Sebaliknya, Roh itu dapat dicurahkan kepada siapa saja yang memiliki keterbukaan hati untuk menerima dan mendengarkan suara Tuhan. Peristiwa pencurahan Roh seperti yang dialami orang Samaria (bdk. Bacaan pertama) menunjukan bahwa kepada kita yang telah percaya Roh yang sama ada dalam diri dan senantiasa bergiat bersama kita. Roh itu pula yakni kekudusan Kristus di dalam hati kita yang membuat kita bersedia setiap saat, dengan keihlasan hati dan dengan  sungguh-sungguh memberikan pertanggungjawaban iman atau kesaksian iman.

Saudara,… Roh itu tak tampak oleh mata manusia. Wujudnya tak dapat dilihat oleh mata telanjang, tapi ia memiliki daya ubah dan menggerakan yang nampak dalam cara hidup orang beriman. Ia berkarya dalam hati orang yang berani mengambil jarak dari kesibukannya dan menciptakan saat hening untuk merenung dan menimbang. Roh itu mengubah rasa lelah  menjadi semangat baru. Karena itu ciptakanlah keheningan untuk kehadiran-Nya. Bukalah hati dan budimu untuk Kristus dan sabda-Nya. Sediakanlah waktu untuk menjumpainya. Pastikan bahwa waktu untuk Dia bukanlah waktu sisa. ***

Wangatoa, 10 Mei 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement