Oleh: RD Pius Laba Buri
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS
Ul 8:2-3.14b-16b 1Kor 10:16-17 Yoh 6:51-58
Bapak, Ibu, Saudara/i, yang terkasih dalam Kristus,…
Dalam Kitab Ulangan (bacaan pertama) Musa mengingakan orang Israel akan situasi sulit, duka lara yang mereka alami dalam pengembaraan di padang gurun, saat keluaran dari tanah Mesir. Musa menegaskan bahwa pengalaman pahit di padang gurun itu, Allah hadir dan bertindak sebagai penyelamat. Allah hadir sebagai sosok yang memberi cobaan untuk mengetahui seberapa dalam kerendahan hati mereka di hadapan-Nya dan seberapa besar kesetiaan mereka pada perintah-perintah-Nya. Ia membuat lapar orang Israel lantas hadir dalam bentuk manna yang tak dikenal agar orang Israel mengerti apa yang paling penting dan prinsip bagi kekuatan hidup mereka. Singkatnya, kehadiran Allah merupakan saat keselamatan yang pantas dikenang.
Apa yang dikatakan Musa kepada orang Israel mendapat penegasan sekaligus pemenuhan oleh dan dalam diri Yesus Kristus, sang Musa baru. Hal ini dapat kita simak dalam Injil Yohanes (Yoh 6:51-58). Kepada orang-orang Yahudi, Yesus mengatakan dengan terus-terang bahwa diri-Nya adalah roti hidup yang telah turun dari surga dan memberi keselamatan. Tubuh-Nya adalah makanan dan Darah-Nya adalah minuman. Perkataan Yesus ini menimbulkan tanda tanya dan pertentangan di kalangan orang Yahudi. Yesus hendak mengubah konsep tentang sarana keselamatan dalam pikiran dan pemahaman orang Yahudi; bahwa saat keselamatan itu terjadi dengan menyantap tubuh dan darah-Nya. Menyediakan tubuh dan darah-Nya sebagai santapan berarti Yesus mengantar manusia keluar dari situasi tidak selamat/sulit kepada keselamatan/pembebasan.
Ziarah hidup kita dapat saja menderetkan sekian banyak peristiwa, tokoh yang berandil membawa kita keluar dari situasi sulit tertentu kepada situasi selamat. Untung ada orang ini kalau tidak mungkin saya sudah terseret banjir. Untung ada dia yang memberikan motivasi kalau tidak saya sudah putus asa. Untuk tidak ada angin saat gelombang kalau tidak pasti kami sudah hanyut. Untung ada dokter atau cepat ke rumah sakit kalau tidak pasti nyawanya tidak tertolong. Dan lain-lain peristiwa yang pernah dialami. Semua itu adalah pengalaman manusiawi yang sering kali kita refleksikan juga sebagi tanda kehadiran dan campur tangan Allah yang menyelamatkan. Namun untuk keselamatan yang kekal, momen keselamatan dan sarana keselamatan bagi kita orang beriman adalah Tubuh dan Darah Kristus. Ia menjadi sumber kekuatan yang tak tergantikan dalam ziarah hidup kaum beriman. Ia bukan doping, obat penenang atau pemuas tubuh jasmani. Kata Yesus; bukan roti yang dimakan oleh nenek moyang orang Israel. Ia adalah santapan rohani yang menyelamatkan jiwa, yang kita terima dengan hati yang pantas yakni dalam kerendahan hati seorang yang percaya. Dalam ketidakpanntasannya seorang yang percaya yakin bahwa Tuhan menyelamatkannya (Bdk: Ya Tuhan saya tidak pantas Engkau datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh).
Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada ajemaat di Korintus (1Kor 10:16-17) menyatakan bahwa santapan tubuh-darah Kristus (roti yang dibagi dan piala yang diedarkan) itu adalah pengikat paling kuat untuk sebuah persatuan yang dicita-citakan. Karena itu, merayakan Tubuh dan Darah Kristus dan menyantap-Nya adalah pengakuan kita akan persatuan dan persaudaraan ziarah kita sebagai umat beriman. Dalam ziarah bersama itu kita mengakui bahwa Tubuh dan Darah Kristus adalah sarana keselamatan jiwa yang tak tergantikan. Karena itu setiap orang beriman hendaknya menaruh hormat dan dengan hati layak menyambut-Nya. Kita memang tidak pantas, tapi kita juga mengikuti rambu-rambu yang Ia tetapkan: Tangglkan kasutmu sebab tempat di mana engkau berdiri adalah tempat yang kudus (Kel 3:5).
Wangatoa, 7 Juni 2026

Komentar